“Perang Obor”, Tradisi Malam Selasa Pon Di Bulan Dzulhijjah

0 97
Sejarah Perang Obor

Pada zaman dahulu, (dipercaya sekitar abad XVI), di desa Tegal Sambi Jepara ada seorang petani dan tokoh masyarakat yang kaya raya bernama Kyai Babadan. Kyai Babadan selain sukses bertani, juga memiliki ternak yang sangat banyak. Sapi dan kerbaunya mulai kurang terurus, lalu tetangga sebelahnya, Ki Gemblong yang mau membantunya mengurus ternak.  Ternyata di tangan Ki Gemblong, ternak Kyai Babadan beranak pinak dengan cepat sehingga jumlahnya semakin bertambah. Ki Gemblong juga rajin memandikan ternaknya di sungai sehingga Kyai Babadan semakin senang hatinya.

Suatu hari, Ki Gemblong melihat banyak ikan dan udang di sungai. Dia berhasil menangkap beberapa dan memanggangnya ternyata rasanya sangat lezat. Ki Gemblong pun menjadi abai pada ternak-ternaknya karena asyik menangkap dan menjual ikan di sungai. Kyai Babadan mengetahui hal itu dan menjadi sangat marah. Apalagi ternak yang dititipkan pada Ki Gemblong menjadi kurus dan sakit-sakitan. Dia segera mencari Ki Gemblong dan menemukannya sedang asyik membakar ikan di tepi sungai. Mereka terlibat pertengkaran dan dalam murkanya, Kyai Babadan memukul Ki Gemblong dengan blarak (daun kelapa kering) yang terbakar ujungnya. Ki Gemblong tak mau kalah lalu dia membalas dengan Blarak atau klaras (daun pisang kering) yang berada di sekitar mereka. Keduanya saling kejar dan saling memukul tanpa memperhatikan sekitar. Ternyata api telah merambat ke mana-mana dan membakar kandang. Ajaib, sapi dan kerbau yang sakit-sakitan menjadi sehat dan gemuk. Maka mereka pun tetap meneruskan pertempuran api mereka, namun kali ini tanpa rasa amarah dan dendam. Semua ternak milik Kyai Babadan dan ternak para tetangga di desa Tegal Sambi menjadi juga sembuh. Sejak saat itulah diadakan ritual saling memukulkan api dari blarak dan klaras yang akhirnya diberi nama Perang Obor.

Makna Perang Obor

Jika ditelusuri lebih jauh, Perang Obor ini memiliki banyak makna. Foklor yang saya sampaikan di atas, jika dipahami maknanya lebih jauh, kita bisa menangkap pesan bahwa kita tak boleh menyepelekan amanah yang dititipkan pada kita. Nama Ki Gemblong sendiri mungkin berasal dari kata gemblung atau tolol, karena sebenarnya memiliki nama sendiri yang disamarkan. Ketika diuji dengan ikan dan udang (nikmat), Ki Gemblong lupa diri dan melalaikan tugasnya. Peristiwa pertempuran Kyai Babadan dan Ki Gemblong juga sebenarnya adalah simbol atau penanda.

Perang Obor biasanya dilakukan secara bersamaan dengan acara sedekah bumi (kabumi). Kabumi adalah perwujudan rasa syukur seluruh warga desa dengan cara saling membagi makanan yang telah didoakan bersama-sama. Kabumi juga berarti doa bersama agar seluruh desa mendapat rezeki yang melimpah dan selalu terhindar dari balak. Ini adalah ikhtiar masyarakat pada ketentuan Sang Penciptanya.

Source "Perang Obor", Tradisi Malam Selasa Pon Di Bulan Dzulhijjah "Perang Obor", Tradisi Malam Selasa Pon Di Bulan Dzulhijjah
Comments
Loading...