Peralatan Permainan Patrol Dari Banyuwangi

0 217

Peralatan Permainan Patrol

Peralatan yang pokok dapat dibagi dalam tiga macam bentuk :

  1. Bentuk angklung, yaitu potongan-potongan bambu dalam ukuran berurutan, kecil sampai yang besar, menghasilkan nada berurutan kecil sampai besar, menghasilkan nada berurutan dalam laras slendro (mirip slendro). Kadang-kadang hanya lima belah saja tetapi kadang-kadang sampai tujuh atau sembilan, tetapi tidak jarang hanya tiga buah dengan nada-nadanya yang berbeda. Bilah-bilah itu dirangkai dengan tali dan diatur sedemikian rupa hingga nantinya dapat dibaca dengan mudah sambil memainkan­nya.
  2. Bentuk kenthongan, yaitu potongan bambu dengan belahan kecil memanjang batangnya sebagai resonator. Ada yang berbelah satu ada yang berbelah dua. Ukurannya pun bermacam-macam, ada yang kecil ada yang begitu besar.
  3. Bentuk bumbung, yaitu potongan bambu ukuran besar sekali, panjang sekitar tiga ruas. Ada yang dihentakkan di atas tanah saja sudah menghasilkan suara bas, ada pula yang dengan meniupnya lewat 6uluh bambu yang lebih kecil, menghasilkan suara seperti gong. Itulah sebenarnya alat yang pokok, akan tetapi sekarang ini banyak juga tambahan alat-alat musik yang lain baik dibuat dari bam­bu juga seperti seruling, dhung-dhung, othok-othok, maupun alat mu­sik lain seperti harmonika, gitar, gendhang, gong kempul, keluncing (triangle), biola dsb. 

Jalannya Permainan

Permainan dapat dilakukan dengan berjalan maupun dengan duduk-duduk di suatu tempat. Tidak ada ketentuan alat musik yang mana akan mendahului dan memimpin permainan, sebab semuanya dilakukan dengan spontanitas bagitu saja. Bila dipakai untuk mengi­ringi lagu, itupun tergantung pada macam lagunya. Kadang-kadang orang memulai dengan angklungnya baru yang lain mengisinya/ka­dang-kadang orang memulai dari kenthongannya, dan dapat juga dari bumbungnya. Tetapi untuk menjaga kekompakan biasanya salah se­orang yang berpengaruh ditunjuk memegang salah satu alat yang me­nonjol bunyinya dan selanjutnya menjadi pemimpin permainan. Alat demikian disebut “pantus”. Pantus memberi tanda dimulainya permainan dan juga tanda kapan harus dihentikan. Kalau disertai gendhang juga berfungsi sebagai pantus. 

Tanggapan Masyarakat

Sampai sekarang orang masih sangat menggemari permainan ini. Kecuali untuk memenuhi fungsi sebagai pengingat waktu sahur di bulan Ramadhan, tradisi meronda itu sendiri sekarang masih dijalan­kan di segala tempat. Malahan ada usaha-usaha sementara seniman untuk menjadi­kan alat permainan itu menjadi instrument musik yang khas bagi Ba­nyuwangi. Dan nyatanya memang dapat dipergunakan untuk mengiringi lagu-lagu Banyuwangi sendiri baik yang tradisional maupun yang garapan baru. Perkembangannya yang paling jauh adalah lahir­nya musik angklung yang khas Banyuwangi, di mana potongan-po­tongan bambunya membentuk angklung tersusun semacam calung dan dapat dipergunakan untuk laras pelog dan slendro.

Sehingga disebut pula angklung dwilaras. Perangkat angklung dwi- laras ini dilengkapi dengan gong, ining-ining (kluncing), gendhang, biola, kethuk-kenong. Angklung dwilaras disebut juga dengan ang­klung Blambangan. Usaha masyarakat untuk melestarikan permainan itu diwujud­kan pula dengan penyelenggaraan kompetisi secara lebih terorganisir dan terarah, sehingga ekses-ekses ‘patrol caruk’ dapat dihindarkan. Usaha ini banyak dibantu dan diprakarsai oleh pemerintah setempat.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/03/04/patrol-kabupaten-banyuwangi/
Comments
Loading...