Penyajian Seni Wulang Sunu

0 60

Penyajian Seni Wulang Sunu

Sesuai dengan bentuknya, seni Wulang Sunu ini tidak menggunakan dialog. Namun memakai nyanyian (tembang) yang syair-syairnya memakai bahasa daerah Jawa. Seni Wulang Sunu ini sama sekali tidak membawakan cerita apapun. Melainkan hanya membawakan gerak-gerak tari sederhana yang diiringi nyannyian dengan syair-syair berisi ajaran yang diambil dari buku “Wulang Sunu” karya Paku Buwana IV.

Urutan Penyajian

Pembukaan

Sebelum pentas dimulai, didahului dengan penyajian tabuhan instrumen secara monoton yang berfungsi sebagai pembukaan dengan tujuan mendatangkan penonton.

Penampilan Tarian
  1. Tabuhan dibunyikan, para penari keluar dengan formasi berbaris berbanjar dua. Fungsi tabuhan hanya sebagai pengatur irama jalannya para penari menuju tempat pementasan.
  2. Apabila para penari telah sampai di tempat pemetasan, tabuhan dihentikan (suwuk). Para penari duduk bersila dengan formasi berbanjar dua seperti pada saat keluar.
  3. Lagu pambagya (pemberian salam kepada penonton) dinyanyikan oleh dalang dibarengi dengan tabuhan. Apabila dalang selesai menyanyikannya maka para penari menarikan sembahan sambil menyanyi seperti yang dinyanyikan oleh dalang tadi.
  4. Lagu kedua yang merupakan perkenalan kesenian itu dinyanyikan oleh dalang diiringi tabuhan. Penari masih bersikap duduk bersila. Saat lagu hampir habis, para penari mengambil sikap jengkeng (duduk di atas tumit kiri, tumit yang lain terletak di tanah agak di depan, lutut membentuk sudut  90. Apabila lagu yang dinyanyikan dalang telah selesai, maka penari menari dalam sikap jengkeng.
  5. Lagu ketiga dan selanjutnya dimainkan seperti lagu-lagu / tarian sebelumnya, yaitu didahului oleh dalang kemudian ditirukan oleh para penari sambil menari dalam sikap berdiri.
  6. Pada nyanyian-nyanyian tertentu penari tidak hanya menari di tempat mereka berdiri, melainkan sambil berjalan ke arah depan, belakang, depan lagi, hingga akhirnya formasi barisan kembali seperti semula. Pada nyanyian tertentu pula mereka menari sambil membentuk formasi lingkaran.
  7. Apabila telah sampai pada syair yang berisikan hal-hal yang bersangkutan dengan soal pertanian, maka ditampilkan peraga Dewi Sri dengan dayang-dayangnya yang kedua-duanya dimainkan oleh pria yang berdandan sebagai wanita. Keduanya menari0nari di tengah lingkaran tersebut.
  8. Tempat, Waktu, dan Lamanya Pentas

Seni Wulang Sunu ini dapat diselenggarakan di tempat / arena yang berukuran 8 X 6 meter sebab gerakan tarinya tidak begitu banyak memerlukan ruang gerak. Kesenian ini dapat diadakan di lapangan, tanah-tanah kosong, halaman rumah, pendopo, bahkan di ruang depan rumah asalkan memenuhi ukuran tersebut.

Waktu pementasan biasanya diselenggarakan pada malam hari dan lama pentas tergantung pada kebutuhan / permintaan pihak penyelenggara. Apabila pentas lengkap, dapat memakan waktu hingga semalam suntuk ( 7-8jam), yakni antara pukul 21.00 – 05.00, sedangkan kalau tidak lengkap bisa 2-3 jam.

Source http://temanggung.dosen.unimus.ac.id/ http://temanggung.dosen.unimus.ac.id/perpustakaan/tari-wulang-sunu/
Comments
Loading...