“Pengantin Pegon” Akulturasi Dari Berbagai Budaya

0 87

Upacara tradisi Manten Pegon sebagai salah satu tradisi pernikahan tradisional yang ada di kota Surabaya. Masyarakat Surabaya selalu mencoba melestarikan dan melakukan tradisi Jawa sebagai warisan para leluhur. Dalam masyarakat Jawa bukan hanya karena tuntunan agama dan keinginan untuk mewujudkan satu keluarga yang sah saja antara pria dan wanita, tetapi juga mempunyai arti yang dalam di dalam suatu kehidupan. Pernikahan juga tidak hanya menyatukan rasa cinta kasih antara pria dan wanita tetapi juga antara dua keluarga yang berbeda budaya, keadaan sosial, ekonomi dll. Didalam hal mengenai pernikahan adat Jawa khusunya masyarakat kota Surabaya juga sering melakukan upacara adat. Salah satunya upacara adat pernikahan yang ada di dalam kota Surabaya yaitu Manten Pegon, tradisi ini sebagai tradisi upacara pengantin asli dari kota Surabaya yang telah dilestarikan dari jaman dulu.

Lahirnya Pengantin Pegon

Pengantin pegon karena lahir dari masyarakat pesisir pantai yang banyak disinggahi oleh pedagang dan saudagar dari seluruh penjuru dunia, seperti yang saya jelaskan diatas, maka mengalami pengaruh budaya dari berbagai etnik yang ada dan tinggal di Surabaya masa itu. Pengantin Pegon dipengaruhi oleh budaya Arab, Cina, Belanda dan kerajaan Surabaya sendiri.

Gambaran Pengantin Pegon

Busana pengantin putri terdiri dari rok dan blus lengan panjang dengan model rok panjang hingga mata kaki, atau sebatas sampai betis serta blus tidak boleh tembus pandang. Untuk warna busana, pengantin pegon cenderung berwarna soft seperti kuning muda, merah muda atau biru muda. Pengantin putri harus menggunakan sarung tangan yang senada dengan warna busana dan stocking sewarna kulit. Untuk alas kaki menggunakan sepatu pantofel yang tertutup dan bertumit tinggi.

Pada bahu kiri dipasang selendang menjuntai ke belakang dengan panjang sekitar 2 meter dan diatasnya dihiasi korsase. Pengantin putri juga membawa hand bouquet. Untuk perhiasan yang digunakan adalah perhiasan kalung kolie permata (sejenis permata yang besar2), anting panjang dengan permata, gelang dan cincin dan riasan yang digunakan cenderung soft dan disesuaikan atau senada dengan warna busana yang dikenakan.

Riasan sanggul, rambut pengantin putri dibagi dua yakni atas dan bawah, lalu sebagian dijalin dan sebagian disasak hingga membentuk bulatan yang kemudian di atasnya dipasangi cemara. Rambut bagian atas disasak penuh, dibentuk bulat bagian kiri dan kanan menutup sepertiga daun telinga. Cemara dibentuk sanggul bulat dari kiri ke kanan. Kemudian sanggul ditutup dengan ronce  bunga kenanga kuning dengan melati ditengahnya yang menyambung dengan sisir melatinya.

Riasan pengantin putra dan busananya lebih sederhana. Pengantin putra menggunakan celana panjang dan jubah, serta topi berbentuk sorban yang diberi ronce melati sebelah kanan dengan dipasang 2 kembang goyang. Pengantin pria juga menggunakan alas kaki berupa terompah dan selempang yang terbuat dari bunga melati.

Dalam kenyataanya Pengantin Pegon masih kurang mendapat respon dan tanggapan yang baik dari masyarakat. Untuk itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Surabaya (DISPARTA) dan himpunan Ahli Rias Indonesia (HARI) Menggelar Festival Manten Pegon. Manten Pegon juga di jadikan sebagai Ujian Nasional (Unas) bagi Perias Manten di Indonesia, yang ingin kejenjang profesional dan mendapatkan pengakuan atau sertifikat secara nasional.

Source "Pengantin Pegon" Akulturasi Dari Berbagai Budaya "Pengantin Pegon" Akulturasi Dari Berbagai Budaya "Pengantin Pegon" Akulturasi Dari Berbagai Budaya

Leave A Reply

Your email address will not be published.