Pemikiran Jawa : Sikap Tak Terbius, Ajar Pandawa

0 183

Wayang itu anekatafsir. Jadi, mau dinaskah sesuai dengan keadaan sekarang, sangat memungkinkan. Bukan hanya lakon Pandawa Dadu, melainkan seperti Wiratha Parwa, dan lain-lain, juga bisa, ungkap Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambaran kelicikan Sangkuni dan Kurawa, sedangkan Pandawa tersudut dan tidak berdaya, seakan-akan mencolok mata, dan begitu gamblang terpampang. Karena itu, ditarik pada keadaan sekarang, yang bagaimanapun terpengaruh suasana politik yang memanas, Edi Suwanda berharap bahwa pejabat tidak terbius dinamika rekayasa.

Pemerintah tetap harus tegak dengan asta brata-nya. Apabila bukan demikian, pengaruh buruknya besar sekali, bahkan pada akar rumput (grass root) sampai rt rw, rawan terjadi permusuhan, dan cenderung bersikap tidak bijaksana. Seperti kerumunan bebek, yang gampang disetir, akhirnya unggah-ungguh tata krama masyarakat kemudian mengarah pada oportunis. Nilai atau semangat kebersamaan hilang, sehingga mengedepankan kepentingan pribadi (lu-lu, gue-gue).

Andai tampak ramah gapyak, itu polesan saja. Apalagi kalau diperkeruh dengan memanfaatkan sporteran, penonton yang diatur oleh pelaku seni untuk tertawa, lucu atau tidak lucu (bandingkan dengan penonton di studio televisi, ketika siaran langsung atau rekaman). Edi Suwanda tambah prihatin akan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bersendi dasar pada kraton, seandainya seluruh masyarakat sekarang oportunis. Edi ingin situasinya membaik. Mudah-mudahan Yogyakarta benar-benar istimewa, bukan hanya bisa diusung & dirasakan orang.

Source Dinas Kebudayaan tasteofjogja.org/isiberita.__ZW33eM9W4MwMygujoMLzP5vsk3-qpKf_R1m4_W-kDMiVP-bwlOc1vc3pIN2V_cTMODRKS5mxkoPej8_N6HPw
Comments
Loading...