Pemikiran Jawa : Memaknai Siwur Bagi Warga Jawa

0 98

Tradisi kirab budaya ‘ngarak siwur’ mampu menarik perhatian ribuan orang, Kamis (06/10/2016). Sebanyak 10 bregada dari delapan desa di Imogiri jadi pengiring perjalanan sepasang siwur yang dimanfaatkan untuk nguras empat enceh atau gentong di Komplek Makam Sultan Agung. Prosesi kirab dimulai ketika  andong yang ditumpangi Wakil Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih beserta istri Emi Masruroh SPd  berjalan dibarisan depan. Sementara jajaran Muspika diantaranya, Camat Imogiri Sigit Subroto, Kapolsek Imogiri Kompol Riyono naik kuda.

Tradisi itu merupakan yang ke -18 digelar oleh Forum Cinta Budaya Bangsa (Forcibb) sebagai rangkaian ritual Nguras Encah. Ketua Forcibb Imogiri, Sudarna mengungkapkan, prosesi arak-arakan bregada itu menuju Kabupaten Juru Kunci Makam Surakarta guna mengambil satu siwur atau gayung. Selanjutnya arak-arakan dilanjutkan menuju ke Kabupaten Juru Kunci Makam Ngayogyakarta Hadiningrat. Dilokasi itu diambil satu buah siwur untuk diarak bersama dengan siwur dari Kabupaten Juru Kunci Surakarta menuju ke Makam Raja-Raja Yogyakarta di Imogiri.

Sudarna menjelaskan sepasang siwur tersebut, merupakan pusaka Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Dua benda itu selalu disimpan juru kunci masing-masing. Baru dikeluarkan ketika digunakan untuk nguras enceh. Ritual itu merupakan proses mengganti air 4 buah gentong di depan Makam Sultan Agung. Siwur oleh masyarakat Jawa dimaknai ‘nek wis isi aja ngawur’ atau seseorang yang telah memiliki kuasa (kepintaran).

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.iY-Qirwoj1uLzHAEWFo3Dhg1aNqnGbQ-tM6CzLAh_nyabLJKFw1RTVYDI5YTrDWRjJqDZamczP-1k6Jtj1lwhw
Comments
Loading...