Pemikiran Jawa : Makna Masjid Kraton Sokotunggal

0 172

Memasuki ruang utama Masjid Soko Tunggal Kraton Yogyakarta para jamaah akan melihat arsitektur masjid ini dengan didominasi tiang penyangga besar yang biasa disebut Soko Tunggal. Dari tiang penyangga besar ini terdapat empat batang saka bentung dan satu batang soko guru, jika dijumlah terdapat 5 buah. Empat batang saka bentung dan satu saka batang soko guru adalah perlamband dari Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan Soko Guru yang memusat menjadi poros dari jari-jari payung yang disebut peniung.

Hal ini merupakan filosofis kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya. Kayu yang digunakan untuk Soko guru adalah kayu jati yang didatangkan dari daerah Cepu Jawa Tengah dengan ukuran 50 cm x 50 cm dengan usia 150 tahun pada masa pembangunan Masjid Soko Tunggal Kraton Yogyakarta Tiang peyangga Masjid Soko Tunggal Kraton Yogyakarta disangga dengan umpak (batu peyangga tiang) yang didatangkan dari Pleret Bantul yang pernah menjadi petilasan Sultan Agung Hanyokrokusuma yang dahulu berkedudukan di Pleret Bantul.

Kita juga akan menemukan beragam ukir-ukiran. Ukiran ini selain dimaksudkan untuk menambah keindahan dan kewibawaaan, juga mengandung makna dan maksud tertentu. Ukiran Probo, berarti bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran Saton, berarti menyendiri, sawiji. Sorot berarti sinar cahaya matahari. Tlacapan berarti panggah, tabah dan tangguh. Ceplok-ceplok berarti pemberantas.

Source Dinas Kebudayaan tasteofjogja.org/isiberita.DTnsI3BePAkHU4wHS8Ps_vVN0tSy9UmeDeBQZXPIL5WKwX-bH63tmdVP26Fs8xuCsYi8Uc-9OrxqkTZNJwIeRw
Comments
Loading...