Pembuatan Kanal dan Saluran Irigasi Pada Zaman Raja Punawarman

0 93

Pembuatan Kanal dan Saluran Irigasi Pada Zaman Raja Punawarman

Untuk kesejahteraan hidup rakyatnya, Purnawarman memperhatikan pemeliharaan aliran sungai dimaksudkan untuk menghindari banjir yang kerap mengganggu wilayah Tarumanagara dan mengatasi masalah kekeringan selama kemarau.

Tahun 410 Masehi, Purnawarman telah memperbaiki aliran sungai Gangga yang melintasi kawasan kerajaan Indraprahasta (diperkirakan berada di daerah Cirebon sekarang).

Sungai yang bagian hilirnya disebut Cisuba, mulai diperbaiki, diperdalam, dan diperindah tanggulnya, yang selesai tanggal 12 bagian terang bulan Posya tahun 332 Saka.

Sebagai tanda penyelesaian karyanya itu, Purnawarman menggelar pesta dengan jamuan makanan dan minuman yang lezat.

Tak lupa ia juga memberi hadiah (sangaskarthadaksina) kepada para brahmana dan juga kepada semua pihak yang ikut serta membantu pekerjaan itu hingga akhirnya dapat selesai.

Hadiah yang diberikan Sang Raja diantaranya: sapi 500 ekor, kuda 20 ekor, pakaian, dan seekor gajah yang diberikan kepada raja Indraprahasta

Dua tahun kemudian, Purnawarman diberitakan memperbaiki dan memperindah alur kali Cupu yang terletak di wilayah Cupunegara. Sungai tersebut bahkan mengalir ke istana kerajaan.

Pekerjaan perbaikan aliran sungai itu hanya memakan waktu 14 hari, dimulai tanggal 4 bagian terang bulan Srawana (Juli atau Agustus) sampai tanggal 1 bagian gelap bulan Srawana tahun 334 Saka (412 Masehi).

Hadiah yang dianugerahkan Sang Purnawarman pada upacara selamatan ialah: sapi 400 ekor, pakaian, makanan, dll.

Baik di tepi kali Gangga di Indraprahasta mau pun di tepi kali Cupu, Sang Maharaja Purnawarman membuat prasasti yang ditulis pada batu sebagai ciri telah selesainya pekerjaan itu dengan kata-kata berbunga (sarwa bhasana), mengenai kebesarannya dan sifat-sifat yang ibarat Dewa Wisnu, melindungi segenap makhluk di bumi.

Prasasti itu pun kemudian dibubuhi lukisan telapak tangan. Para petani merasa senang hatinya. Demikian pula para pedagang yang biasa membawa perahu dari muara ke desa-desa di sepanjang tepian sungai.

Pada tanggal 11 bagian gelap bulan Kartika (Oktober atau November) sampai tanggal 14 bagian terang bulan Margasira (Desember atau Januari) tahun 335 Saka (413 M), Sang Purnawarman memperindah dan memperteguh alur kali Sarasah atau kali Manukrawa.

Waktu dilangsungkan upacara selamatan Sang Purnawarman sedang sakit sehinga terpaksa ia mengutus Mahamntri Cakrawarman sedang sakit sehingga terpaksa ia mengutus Mahamantri Cakrawarman untuk mewakilinya.

Sang Mahamenteri disertai beberapa orang menteri kerajaan, panglima angkatan laut, sang tanda, sang juru sang adyaksa beserta pengiring lengkap datang di tempat upacara dengan menaiki perahu besar.

Hadiah yang dianugerahkan adalah: sapi 400 ekor, kerbau (mahisa) 80 ekor, pakaian bagi para brahmana, kuda 10 ekor, sebuah bendera Tarumanagara, sebuah patung Wisnu dan bahan makanan. Setian orang yang ikut serta dalam pekerjaan ini memperoleh hadiah dari Sang Maharaja Purnawarman.

Para petani menjadi senang hatinya karena ladang milik mereka menjadi subur tanahnya dengan mendapat pengairan (kawwayan) dari sungai tersebut. Dengan demikian tidak akan menderita kekeringan dalam musin kemarau.

Kemudian Sang Purnawarman memperbaiki dan memperindah alur kali Gomati dan Candrabaga yang beberapa tahun sebelumnya Sang Rajadirajaguru, kakek Purnawarman juga melakukan hal yang sama.

Jadi Sang Maharaja Purnawarman mengerjakan hal itu untuk kedua kalinya. Selain itu hal ini juga menunjukan, usaha-usaha rehabilitasi sungai telah menjadi agenda kerajaan dari dahulu.

Pengerjaan kali Gormati dan Candrabaga ini dilangsungkan sejak tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna sampai tanggal 13 bagian terang bulan Caitra tahun 339 Saka (417 Masehi).

Ribuan penduduk laki-laki dan perempuan dari desa-desa sekitarnya berkarya-bakti siang-malam dengan membawa berbagai perkakas. Mereka itu berjajar memanjang di tepi sungai. Sambung-menyambung tidak terputus tanpa saling mengganggu pekerjaan masing-masing.

Selanjutnya Sang Purnawarman mengadakan selamatan dan hadiah-harta kepada para brahmana. Perinciannya: sapi (ghoh) 1.000 ekor, pakaian serta makanan lezat, sedangkan para pemuka dari daerah ada yang dihadiahi kerbau (mahisa).

Ada yang dihadiahi perhiasan emas dan perak, ada yang dihadiahi kuda dan bermacam-macam hadiah lainnya lagi. Di sana Sang Maharaja membuat prasasti yang ditulis pada batu.

Demikian pula di tempat-tempat lain, Sang Purnawarman banyak membuat prasasti batu yang dilengkapi dengan patung peribadinya, lukisan telapak kaki tunggangannya yaitu gajah bernama Sang Erawata.

Demikian pula ada yang ditandai dengan lukisan brahmara (kumbang atau lebah), sang hyang tapak, bunga teratai, harimau dan sebagainya dengan tulisan pada batunya.

Di tempat pemujaan (pretakaryan) yang telah selesai dibangun, dilukiskan bendera Taruma nagara dan jasa-jasa sang maharaja. Semua itu ditulis pada prasasti batu di sepanjang tepi sungai di beberapa daerah.

Pada tanggal 3 bagian gelap bulan Jesta (Mei atau Juni) sampai tanggal 12 bagian terang bulan Asada (Juni atau Juli) tahun 341 Saka (413 Masehi) Sang Purnawarman memperbaiki, memperteguh alur dan memperdalam Citarum, sungai terbesar di kerajaan Taruma di Jawa Barat.

elamatan dan hadiah harta dilaksanakan setelah pekerjaan itu selesai. Hadiah berupa sapi 800 ekor, pakaian, makanan lezat, kerbau 20 ekor dan hadiah-hadiah lain.

Pembangunan kanal dan pembaharuan aliran-aliran sungai tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan perekonomian. Kedua sungai tersebut selain berfungsi sebagai sarana pencegah banjir, juga berfungsi sebagai sarana lalu lintas air (sumber irigasi) dan perdagangan antara Tarumanagara dengan kerajaan atau daerah lain (perdagangan di tepian sungai  semakin ramai).

Kekeringan pun tidak pernah melanda di seluruh penjuru negeri Tarumanagara meskipun dalam kondisi kemarau. Penggalian sungai yang dilakukan secara bersama-sama ini memperlihatkan semangat “gotong-royong” masyarakat Tarumanagara.

Pustaka Jawadwipa menyebutkan, pada masa Tarumanagara aktivitas “gotong royong” ini disebut karyabhakti.

Source Pembuatan Kanal dan Saluran Irigasi Pada Zaman Raja Punawarman Wacana

Leave A Reply

Your email address will not be published.