Pelaku Permainan dan Jalannya Permainan Agutta Kabupaten Jember

0 128

Pelaku Permainan dan Jalannya Permainan Agutta Kabupaten Jember

Seperti dikemukakan di atas, permainan Agutta ini bera­sal, dari kegiatan yang dilakukan oleh pekerja-pekerja penumbuk padi. Dan pekerja-pekerja itu adalah wanita, terutama ibu-ibu yang sudah separuh umur atau lebih, yaitu wanita-wanita yang masih kuat pisiknya. Demikianlah maka permainan Agutta itu sam­pai saat ini pun dilakukan wanita – wanita itu. Ada sekitar lima orang wanita dengan masing – masing mempunyai tugas tertentu dalam memainkan “Gentong”-nya pada ronjangan. Mereka juga me­nyanyi bersama atau kadangkala ada seorang yang khusus sebagai penyanyi tunggal, tetapi yang seorang ini pun kadang-kadang sambil memegang memainkan “gentong”-nya. Siapa yang harus memulai suatu permainan, tidaklah tetap, tergantung pada jenis perlaguan mana yang akan dibawakan.

Tetapi pada prinsip­nya terjadi demikian; seorang membuat suatu pola pukulan ter­tentu, ini menandai suatu jenis perlaguan, dan segera saja yang- lain-lain menanggapinya dengan pola irama tertentu pula yang secara kebiasaan telah mereka hafalkan dan mereka kuasai benar, merupakan suatu jenis perlaguan. Kemudian apabila ada nyanyi­an untuk pola atau jenis perlaguan tertentu maka merekapun mu­lai menyanyi entah bersama, bersautan, ataupun tunggal.

Apabila sebuah lagu sudah diulang-ulang dan dianggap sudah cukup di­nikmati, maka seseorang yang dianggap paling berpengaruh di an­tara mereka akan merubah pola pukulannya sedemikian hingga yang lain-lain merasakan bahwa tanda itu merupakan ajakan untuk menghentikan permainan atau merubahnya dengan jenis lagu yang lain.Beberapa lagu rakyat Madura merupakan lagu-lagu tradisi me­reka seperti Walangkekek, Orkesan, Fajjar Laggu, Lir Saalir, Man Jauma, Cung-cung Kuncung Konce dsb.

Tak ada ketentuan waktu kapan permainan itu harus dilakukan, sesuai dengan asal usulnya yaitu sekedar pelepas lelah diantara kerja keras menumbuk padi menyiapkan beras. Tetapi oleh karena kebiasaan itu telah menjadikan ciri atau pertanda adanya suatu perhelatan, maka lama kela­maan bahkan sengaja diselenggarakan tanpa rangkaian pokoknya lagi. Jadi sekalipun orang tidak lagi menyiapkan beras dengan me­numbuk padi, namun orang menyuruh juga menabuh atau memain­kan Agutta ini dalam persiapan pesta perkawinan ataupun khitanan.

Sepanjang siang dan malam hari orang memainkannya, dengan waktu-waktu istirahat yang tidak terlalu panjang. Di sana sini menanda­kan bahwa mereka yang hendak membantu menyiapkan makan su­dah diharapkan datang di rumah perhelatan. Kemudian juga menan­dakan bahwa makan sudah siap untuk dimakan bersama. Atau juga menandai bahwa si empunya kerja telah siap menerima tamu-tamu hendak menyampaikan sumbangannya. Demikianlah permainan ini baru akan dihentikan kalau hiburan yang pokok untuk perhelatan itu telah siap dilakukan, misalnya tabuh, ludruk wayang topeng, wayang kulit dan sebagainya. 

Source http://jawatimuran.net/ http://jawatimuran.net/2013/03/04/agutta-kabupaten-jember/
Comments
Loading...