Pelaksanaan Ruwatan Seni Bangreng

0 50

Pelaksanaan Ruwatan Seni Bangreng

Pelaksanaan ruwatan seni bangreng dilakukan satu malam, yang di mulai pada pukul 06.00. Dengan acara numbal yang dilakukan oleh tokoh masyarakat yang dianggap paling tua dan memiliki kemampuan khusus untuk melaksanakan kegiatan numbal. Acara numbal dimakusdkan sebagai upaya untuk menolak malapetaka yang akan muncul pada tahun berikutnya. Tumbal dianggap sebagai pengganti dari kerugian yang akan dialami jika terjadi bencana atau malapetaka.

Adapun sesajen yang dijadikan tumbal antara lain : pohon hanjuang, samara (bumbu-bumbu dapur), seekor ayam, rurujakan (sebangsa rujak diantaranya rujak asem dan rujak pisang dengan kelapa), dan lain-lain. Barang-barang yang dijadikan tumbal dikubur di pusat dusun atau tengah-tengah dusun oleh sesepuh dengan jampe-jampe yang berbentuk jangjawokan (mantra-mantra) sebagai kalimat penolak bala. Pertunjukan kesenian bangreng di mulai pada pukul 9.30 dengan mengetengahkan lagu-lagu buhun sebagai pembuka. Lagu-lagu buhun yang disajikan antara lain Kembang Gadung, Lagu Sampeu, Buah Kawung, dan kembang Beureum.

Lagu-lagu buhun harus pertama kali disajikan sebelum lagu-lagu lainnya, dengan alasan bahwa lagu-lagu ini merupakan kesenangan para karuhun semasa hidupnya. Dan diharapkan dengan penyajian lagu-lagu kesenangan para karuhun ini pelaksanaan ruwatan dapat diterima oleh roh-roh leluhur yang dianggap turut menyaksikan serta menikmati suguhan yang diberikan. Kemudian setelah sajian lagu-lagu buhun selesai, pertunjukan bangreng berikutnya lebih didasarkan pada permintaan penonton. Pada kesempatan ini penonton dapat meminta lagu yang sesuai dengan kesenangannya dan menari bersama ronggeg pilihannya yang kemudian harus memberikan bayaran kepada kepada ronggeng tersebut sebagai upahnya.

Source https://www.tradisikita.my.id/ https://www.tradisikita.my.id/2016/09/mengenal-tradisi-seni-bangreng.html
Comments
Loading...