Pasaran: Kesadaran Ruang-Waktu Masyarakat Jawa

0 158

Pasaran: Kesadaran Ruang-Waktu Masyarakat Jawa

Penamaan hari-hari Jawa atau yang dikenal dengan pasaran merupakan salah satu perhitungan yang dipenuhi makna filosofis. Penyebutan nama-nama pasaran ini ternyata tidak lepas dari falsafah dasar masyarakat Jawa, yakni sedulur papat lima pancer. Pedoman hidup masyarakat Jawa ini bermanifestasi dalam berbagai lini kehidupan masyarakat Jawa, tak terkecuali dalam caranya menandai dimensi waktu.

Masyarakat Jawa memiliki lima jumlah pasaran, yaitu legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Adapun penggunaannya ialah dengan menyematkannya di belakang nama hari secara berurutan. Contohnya, Senin legi, Selasa pahing, Rabu pon, Kamis wage, Jumat kliwon, Sabtu legi, Minggu paing dan seterusnya.

Soenandar Hadikoesoemo menjelaskan dalam bukunya ‘Filsafat Kedjawaan’ bahwa konsep sedulur dan keblat papat lima pancer memiliki hubungan yang intim dengan jagad besar (makrokosmos) (Soenandar, 1985: 76-77). Dalam pengertian makrokosmos, pasaran dapat dijelaskan sebagai berikut: Pasaran legi bertempat di Timur, yang mengandung unsur udara dan memancarkan cahaya putih. Pasaran pahing bertempat di Selatan, yang mengandung unsur api dan memancarkan cahaya merah. Pasaran pon bertempat di Barat, yang mengandung unsur air dan memancarkan cahaya kuning. Pasaran wage bertempat di Utara, yang mengandung unsur tanah dan memancarkan cahaya hitam.

Lima pasaran Jawa mewakili falsafah sedulur papat lima pancer dalam pengertian mikrokosmosnya pula. Pasaran legi mengandung arti mamarti atau air ketuban. Pahing bermakna darah. Pon diartikan sebagai ari-ari. Wage dimaknai sebagai tali pusar. Dan pasaran kliwon bertempat di tengah-tengah perlambang sukma/jiwa sebagaimana lima pancer yang memancarkan cahaya panca warna. Yang dimaksud di sini adalah si jabang bayi. Hakikat pokok mengenai kesatuan konsep sedulur papat lima pancer dengan pasaran juga dijelaskan dalam dua serat yang terkenal di Jawa, yakni Serat Pakuwon dan Serat Centhini (Soenandar, 1985: 76-77)

Menurut pengertian-pengertian di atas, pasaran dengan lengkap merangkum sedulur papat lima pancer dalam kaitannya dengan saudara empat yang terdapat di dalam jagad kecil (mikrokosmos) yaitu apa-apa yang mengiringi kelahiran manusia. Di satu sisi, pasaran juga memiliki makna empat arah penjuru jagad besar manusia (makrokosmos). Karena keberadaanya berakar dari falsafah Jawa, menyebabkan pasaran memainkan peran penting dalam pelbagai aktifitas masyarakat Jawa.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Purwadi bahwa masyarakat Jawa masih kuat memegang kepercayaan terhadap pasaran, terutama masyarakat pedesaan atau tradisionalis. Hal ini cukup terlihat dari cara mereka memilih hari untuk melaksanakan aktivitas sosial maupun ekonomi. Ketika masyarakat Jawa hendak bepergian atau menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan atau memulai membangun rumah, mereka akan melihat kalender untuk menemukan hari baik.

Dalam hal ini, biasanya mereka juga menyertakan perhitungan neptu yaitu jumlah-jumlah angka dari hari dan pasaran. Apabila angka yang dihasilkan cocok, maka hal tersebut dianggap baik untuk dilaksanakan. Namun apabila bilangannya tidak sesuai, maka masyarakat Jawa pantang melaksanakannya. Lima pasaran tersebut juga memiliki arti tak kalah penting dalam kegiatan ekonomi. Hal ini tercermin dari nama-nama pasar yang masih dapat kita temukan di Jawa sampai hari ini, yaitu Pasar Wage, Pasar Legi, dan Pasar Pon. Jadi pasar-pasar ini hanya buka ketika jatuh pada hari pasaran-pasaran tersebut.

Menilik dari sejarahnya, hitungan pasaran ini dicanangkan pertama kali oleh Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, Sultan Mataram Islam. Kebijakan ini diambil pada 1 Syuro 1555 atau bertepatan dengan tahun 1043 Hijriah. Kebijakan ini diambil dalam rangka meng-akulturasikan penanggalan Saka, yang berasal dari kebudayaan Hindu yang dipakai oleh masyarakat Jawa saat itu dengan penanggalan Hijriah. Kalender Saka berdasarkan sistem perhitungan matahari sedangkan penanggalan Hijriah didasarkan pada perhitungan bulan. Setelah digabungkan, lahirlah kalender baru yang unik, yaitu kalender Jawa-Islam (Purwadi, 2004 :114).

Nama-nama bulan dari kalender Islam terdiri dari Sura, Sapar, Mulud, Jumadil Awwal, Jumadil Akir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela dan Besar. Adapun perhitungan hari diadaptasi dari penanggalan Jawa yakni lima pasaran tadi. Jadilah penggabungan keduanya dalam satu kalender sebagai kalender Jawa-Islam. Tidak dapat dipungkiri, sedulur papat lima pancer merupakan filsafat yang telah mendarah daging dalam masyarakat Jawa. Filsafat ini menyebarkan ajaran luhur yang meresap sempurna pada hati pengikut-pengikutnya dari berbagai agama tak terkecuali, Islam. Lahirnya Pasaran menandai penyatuan antara Jawa dan Islam dalam ikatan yang harmonis dan langgeng.

Penghormatan masyarakat terhadap hari-hari tertentu serta kehati-hatiannya dalam menjalani berbagai aktifitas maupun hajatnya, merupakan bukti bahwa pelakunya senantiasa mengharapkan kebaikan atas segala hal. Penuh pertimbangan, teliti, dan tidak sembrono merupakan karakteristik masyarakat Jawa yang penting untuk terus dilestarikan. Masih digunakannya hitungan weton-pasaran oleh masyarakat Jawa di era digital ini, menandai bahwa kepercayaan masyarakat Jawa kepada hal-hal mistik belum luntur. Meskipun di sisi lain, ada ancaman yang besar bahwa kepercayaan tersebut akan pudar seiring berjalannya waktu. Hal utama yang menjadi perhatian kita adalah pasaran merupakan salah satu kekayaan warisan budaya kita. 

Source http://www.timurjawa.com/ http://www.timurjawa.com/2019/05/19/pasaran-kesadaran-ruang-waktu-masyarakat-jawa/
Comments
Loading...