Paribasan Jawa : Gupak Pulute Ora Mangan Nangkane

0 58
Kalau diterjemahkan biasa, artinya terkena getahnya (pulut) tidak makan nangkanya. Pada masa nangka belum dijual di supermarket dalam kemasan “siap makan” maka kalau kita ingin makan nangka harus berjuang dulu. Membuka buahnya yang besar, kemudian melepas isi yang dapat kita makan. Kita tidak akan pernah makan nangka tanpa “gupak pulut” nya dulu. Membersihkan “pulut” (getah) harus pakai minyak kelapa, kemudian dibilas pakai sabun.

Kecuali kita suruhan pembantu (yang tangannya belum tentu bersih juga) maka kita tidak mungkin makan nangka tanpa “effort”. Oleh sebab itu peribahasa “gupak pulute ora mangan nangkane” berkisah tentang orang yang ikut susah payah tetapi tidak menikmati hasilnya.

Ada sepasang maling, yang satu lari dan satunya ketangkap massa dan digebuki rame-rame (sambil menunggu polisi datang). Rasanya lebih tepat untuk perilaku semacam ini adalah “ngundhuh wohing panggawe”, atau “ngundhuh wohing pakarti” dengan kata lain: “Siapa menanam akan menuai”. Dia bukan “gupak pulut”  tapi “ngundhuh”.

Seorang pimpinan harus hati-hati karena staf yang kerja keras bantu pimpinan (barangkali tidak ikhlas) tapi tidak dapat “reward”, bisa saja mengatakan “gupak pulute ora mangan nangkane”. Walaupun mungkin sang pimpinan ini lupa, bahwa tiap orang motifnya berbeda-beda. Kemudian bagi seorang staf, bukankah sudah kewajiban, melaksanakan perintah pimpinan (sepanjang masih dalam urusan kedinasan). Coba saja lihat uraian tugas. Pada butir paling bawah biasanya tertulis kurang lebih sebagai berikut: melaksanakan tugas lain yang diperintahkan pimpinan.

Kebalikan dari “gupak pulute ora mangan nangkane” adalah “gelem nangkane emoh pulute” atau “gelem jamure emoh watange”. Jamur (pasti bukan yang di supermarket) dulu juga harus dicari, dan biasanya tumbuh di batang-batang kayu  yang sudah setengah membusuk (watang: batang).

Source http://iwanmuljono.blogspot.com http://iwanmuljono.blogspot.com/2012/03/gupak-pulute-ora-mangan-nangkane.html
Comments
Loading...