Pantangan-pantangan Dalam Tradisi Masyarakat Jawa

0 93

Pantangan-pantangan Dalam Tradisi Masyarakat Jawa

Perawan jangan duduk di tengah puntu atau jangan menyapu di malam hari. Mungkin dua larangan itu kerap kita dengar di kalangan masyarakat Jawa. Tidak jelas apa maksud larangan tersebut. Namun nyatanya sebagian masyarakat Jawa mengindahkan larangan-larangan tersebut.

Kenapa hal-hal tersebut di atas dilarang? Orang Jawa menyebutnya ‘Ora Elok’. Ora Elok merupakan istilah Bahasa Jawa yang berarti tidak baik, tidak bagus, tidak etis dan arti lainnya yang berisi larangan. Ungakapan ‘Ora Elok’ pada masyarakat Jawa merupakan suatu tradisi atau budaya yang unik dan masih berkembang sampai saat ini.

Ungkapan tersebut dimaksudkan agar seseorang tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau melanggar unggah-ungguh. Unggah-ungguh dalam masyarakat Jawa merupakan aturan kesopanan yang tidak tertulis tetapi dipegang sangat kuat.

Bagi orang Jawa, khususnya orang tua, ungkapan ‘Ora Elok’ menjadi salah satu ungkapan yang digunakan untuk mengingatkan sesuatu hal kepada¬†anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Kalimat-kalimat yang mengikuti ungkapan ‘Ora Elok’ mengandung nasihat-nasihat berisi pelajaran unggah-ungguh, etika, atau budi pekerti.

Ungkapan ‘Ora Elok’ dalam Bahasa Jawa beragam macamnya. Seperti ‘Ora elok nglungguhi bantal, engko wudunen’ (Tidak baik menduduki bantal, nanti bisa bisulan). ‘Ora elok dolanan beras, engko tangane kithing’ (Tidak baik bermain beras, nanti jari tangannya bertumpang tindih).

Kemudian ‘Ora elok perawan lungguh ngadek neng ngarep lawang, mengko iso dadi perawan tuwa (Tidak baik anak gadis duduk atau berdiri di tengah pintu, nanti bisa jadi perawan tua). ‘Ora elok ngidoni sumur, mengko lambene guwing (Tidak baik meludahi sumur, nanti bibirnya sumbing), dan masih banyak lagi istilah ‘Ora Elok’ lainnya.

Setiap orang Jawa yang ‘njawani’ pun akan menahan diri sebelum melangkah atau melakukan kegiatan. Sebab, banyak sekali pantangan-pantangan orang Jawa yang menjadi paugeran atau aturan terhadap beragam hal. Pantangan yang dimaksud, tidak lain bertujuan agar anak-anaknya dan keluarganya menjunjung tinggi etika atau sopan santun.

Pantangan tersebut umumnya diungkapkan dengan tambahan kata ‘Ora elok’ dan tidak dijelaskan secaa detail alasannya. Apalagi hal tersebut sudah merupakan tradisi budaya yang turun temurun. Pantangan-pantangan tersebut, ada pesan moral yang ingin disampaikan. Apalagi orang Jawa identik dengan sanepan atau ibarat bila ada hal yang dimaksud. Tidak langsung pada pokok dan inti permasalahannya.

Seperti halnya orang hamil, dalam adat Jawa ada istilah ngapati (3 bulan 10 hari atau empat bulan), tingkeban 6 bulan menuju 7 bulan dan lain sebagainya. Ada juga istilah mitoni, 7 bulan setelah bayi lahir diadakan selamatan dan dimandiin di sungai. Tak cuma di masyarakat Jawa, pantangan-pantangan atau hal tabu yang dilarang dilakukan juga berlaku bagi masyarakat suku lain, semisal Sunda.

Source https://www.merdeka.com/ https://www.merdeka.com/peristiwa/pantangan-pantangan-dalam-tradisi-masyarakat-indonesia.html
Comments
Loading...