Panjang Jimat, Tradisi Caos Bukan Hanya Sekadar Tradisi

0 30

Cuaca cerah dan libur panjang akhir pekan, benar-benar membuat malam prosesi panjang jimat, atau pelal pada Jumat, 1 Desember 2017 malam, benar-benar dipenuhi lautan manusia. Prosesi panjang jimat digelar tiga keraton, yakni Keraton Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan dalam waktu bersamaan. Prosesi panjang jimat adalah tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun, yang menggambarkan drama kelahiran Nabi Muhammad SAW. Penggambaran tersebut dilambangkan melalui simbol-simbol perangkat pelal.

Prosesi panjang jimat atau pelal, yang digelar setiap 12 Mulud, adalah puncak perayaan Maulud Nabi Muhammad. Meski digelar malam hari, pelal sampai saat ini masih menjadi magnet bagi ribuan warga dari berbagai pelosok negeri, bahkan tidak sedikit juga wisatawan asing yang datang untuk menyaksikannya. Di Keraton Kasepuhan, perangkat pelal diarak dari mulai Keraton Kasepuhan menuju mesjid agung keraton yang berjarak sekitar 300 meter. Ada 16 simbol arak-arakan yang menceritakan drama kelahiran Nabi Muhammad.

Diawali dari rombongan pembawa payung keropak, tunggul manik, lilin dan damar kurung sampai pembawa tujuh nasi jimat di atas piring besar atau panjang. Ini menggambarkan kesiapan Abdul Mutholib, menyambut kelahiran Nabi Muhammad, cucunya. Keindahan puluhan damar kurung-semacam lampion warna-warni yang mengawali arak-arakan menjadi daya tarik tersendiri. Prosesi diakhiri dengan pembacaan barjanji (asrakalan) dan salawat untuk Nabi Muhammad SAW.

Makanan yang sudah mendapat doa-doa itu kemudian dibagi-bagikan kepada sultan, famili, abdi dalem dan warga. Saat itulah makanan yang telah didoakan seperti bekasem ikan, nasi tumpeng, nasi uduk, nasi putih dan terutama “nasi jimat”, menjadi rebutan ribuan warga yang sudah menunggu di halaman keraton. Tidak seperti nasi dan berbagai variannya yang dimasak dengan air, nasi jimat yang menjadi sajian utama pelal, dimasak dalam rendaman minyak goreng langsung, saat masih berupa beras. Saat ini, nasi jimat menjadi satu-satunya menu sajian pelal yang dimasak harus dengan kayu bakar, di dapur mulud. Kayu bakar yang digunakan pun didatangkan khusus dari tempat-tempat yang dikeramatkan.

Meneladani perilaku nabi

Menurut Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, perayaan Maulud Nabi sebenarnya lebih kepada menggugah masyarakat untuk meneladani perilaku dan sunah Nabi. Meski kental nuansa religi, menurut Arief, tradisi muludan hingga prosesi panjang jimat sejatinya peristiwa multidimensi. “Bukan hanya sekedar tradisi tetapi peristiwa budaya religi, tetapi juga sosial dan ekonomi, “ katanya.

Sehingga menurut Arief, esensi dari pelal adalah upaya untuk selalu mengingat sosok Agung Nabi Muhamad saw, dengan selalu meneladani ajaran dan ujar-ujarannya. Menurut dia, ada dimensi ketauhidan dalam prosesi pelal, yakni menjadi semacam kekuatan pengingat bagi umat Islam,  untuk selalu menjaga syahadat.“Ada juga ruang pertemuan sosial budaya dan ekonomi, sehingga pelal bukan hanya milik umat Islam tetapi juga agama lain, “ katanya.

Tradisi caos

Selama sepekan sebelum malam puncak pelal, sultan sepuh menggelar tradisi caos atau semacam open house untuk bersilaturahmi langsung dengan abdi dalem, warga dan wargi keraton yang berbondong-bondong datang ke keraton. “Muludan di Keraton Kasepuhan juga menjadi ajang silaturahmi para abdi dalem, para wargi, masyarakat dari berbagai pelosok daerah dan ribuan orang dengan sultan sepuh,” katanya.

Muludan, katanya, juga menjadi potensi pariwisata budaya terbesar di Jawa Barat dengan jumlah pengunjung lebih dari 200.000 wisatawan selama sebulan. Sultan Sepuh berharap, tradisi muludan menjadi media untuk mengingatkan kembali pentingnya tradisi silaturahmi yang langsung bertatap muka, bukan hanya sekedar menyapa melalui media teknologi komunikasi.

Source https://www.pikiran-rakyat.com https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/12/02/panjang-jimat-bukan-hanya-sekadar-tradisi-415016
Comments
Loading...