Panca Guna Panjang Ilang Dalam Adat Jawa

0 601

Panca Guna Panjang Ilang Dalam Adat Jawa

PANJANG ILANG, adalah nama keranjang yang terbuat dari anyaman janur. Memiliki gantungan ujung janur sisa dari yang dianyam, yang disatukan pada satu simpul di bagian pucuknya. Fungsinya untuk wadah aneka makanan dan sesaji (sajen), dalam kelengkapan ritual tata adat Jawa.

Seiring dengan kemajuan zaman, keberadaan Panjang Ilang makin ditinggalkan. Kecakapan membuat Panjang Ilang, makin langka ditemukan. Karena, kecakapan membuat Panjang Ilang, sekarang ini hanya dimiliki oleh sejumlah kecil para tetua desa. Tidak ada generasi muda yang dapat membuat Panjang Ilang.

Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat, menyatakan, orang yang memiliki ketrampilan membuat Panjang Ilang semakin sulit ditemukan. Abdi dalem Keraton Surakarta ini berkata: ”Demi pelestarian kearifan lokal ini, kiranya perlu diajarkan ketrampilan pembuatan Panjang Ilang pada kursus seni merangkai janur, atau di lembaga kursus budaya Jawa seperti Permadani misalnya.”

”Saya dulu juga belajar dari sesepuh,” ujar Satimin Padmo Wiyono. Warga Dusun Demangan, Desa Pijiharjo, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, ini bersedia untuk menularkan ketrampilannya membuat Panjang Ilang kepada yang memerlukannya. Bapak dua anak dan kakek dua cucu ini, menyatakan, kecuali Panjang Ilang, juga mahir membuat kisa, yakni cakingan tempat wadah ayam yang terbuat dari anyaman blarak (daun kelapa), serta aneka macam dan jenis ketupat.

Dalam buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa (Karya Drs R Harmanto Bratasiswara, terbitan Yayasan Suryasumirat, Jakarta), menyebutkan, setidak-tidaknya Panjang Ilang memiliki Panca Guna (lima fungsi) dalam ritual upacara adat Jawa. Pertama, sebagai wadah sesaji buwangan (bucalan) yang dilakukan orang hajatan, seperti perhelatan mantu atau kitanan. Sesaji itu, kemudian dibawa ke tempat petilasan leluhur yang dianggap sakral, atau tempat yang dijadikan tetenger (pundhen atau pedhayangan), sebagai penghormatan kepada cikal bakal leluhur pendiri desa.

Ritual Ruwatan

Ketika digunakan untuk upacara adat bucalan, Panjang Ilang diisi dengan aneka makanan hasil olahan menu yang disuguhkan dalam pesta hajatan. Seperti nasi dengan lauk pauknya, jadah, jenang, wajik, ditambah ketupat, lepet, dan aneka umbi-umbian atau krowotan, pisang, serta dilengkapi dengan rokok, kinangan, dan uang sesari.

Kedua, sebagai wadah ubarampe srasahan penganten (aneka ragam bawaan penganten pria tatkala akan menjalani upacara manten). Ketiga, untuk wadah sesaji dalam ritual ruwatan, sebagai sarana memohon agar dibebaskan dari aura sukerta (sial). Yang ini, biasa digelar bersamaan pagelaran wayang kulit lakon Murwakala, dan sesaji yang diwadah dalam panjang ilang, digantungkan di kedua ujung plangkan (kerangka) kelir wayang kulit.

Keempat, sebagai wadah makanan bekal logistik bagi para prajurit keraton. Ketika menjalani latihan perang-perangan, para ksatria atau prangwadana, membawa bekal makanan yang diwadah Panjang Ilang. Kelima, untuk tempat hidangan bagi para tamu kehormatan atau VIP pada event hajatan di keraton.

Pada sebagian masyarakat Jawa yang masih bersikukuh pada tata cara adat Kejawen, sebagaimana yang terjadi di pedalaman Wonogiri (Jateng) dan Gunungkidul (DI Yogyakarta), serta para kerabat yang hidup di lingkungan keraton Mataram Jawa, masih sering dijumpai pembuatan Panjang Ilang, untuk keperluan panca guna dalam pelaksanaan ritual adat Jawa.

Source https://www.suaramerdeka.com https://www.suaramerdeka.com/news/baca/18200/panca-guna-panjang-ilang-dalam-adat-jawa
Comments
Loading...