Okolan Sambikereb Surabaya

0 129

Okolan Sambikereb Surabaya

Gending Becek mengalun mengiringi satu persatu pemain okol naik ke arena pertarungan. Irama yang terdengar terasa membakar semangat dan keceriaan yang bersahaja di siang yang terik. Pemandu acara terus berkoar menggiring masyarakat sekitar untuk segera merapat, untuk menyaksikan ajang yang hanya dihelat setahun sekali itu.

Dari semula, ajang okolan mampu menarik perhatian banyak peserta tanding dan penonton dari berbagai daerah, terutama di sekitar kawasan Sambikereb. Di kelurahan, yang kabarnya memiliki area terluas di Kota Madya Surabaya ini, olahraga tradisional yang satu ini masih bisa dinikmati. Walaupun untuk menyaksikannya harus menunggu di rentang antara bulan September-Oktober.

Dengan bertelanjang dada, serta perlengkapan ala kadarnya para petarung ini berdiri menatap lawan. Mencermati setiap jengkal bagian tubuh masing-masing. Seakan membaca titik kelemahan musuh yang ada di hadapannya.

Saling berhadapan, berangkulan menggenggam selendang yang terikat di pinggang lawan. Dengan posisi seperti saling mendorong, menunggu aba-aba untuk mulai. Sebenarnya mereka tidak akan pernah ditarungkan satu sama lain, bila keduanya tidak sepadan.

Pesertanya selama ini adalah masyarakat umum, siapa saja yang berminat ikut tinggal mendaftar. Maka di arena nantinya oleh Pelandang (semacam wasit pertarungan) akan dicarikan lawan yang sebanding. “Sebanding dalam hal ini adalah ukuran besar dan tinggi badan, karena di sini adalah ajang unjuk kekuatan,” papar Sudjiantoko, warga setempat. Yang sering terjadi, biasanya bila lawan tidak sebanding maka lawan yang lain tidak mau bertarung. Dan mereka bisa memilih lawan lainnya yang sepadan dengannya.

Beberapa piranti yang digunakan dalam olahraga tradisional yang cukup ken tal di kalangan masyarakat Sambikereb ini adalah udeng, selendang, dan payung untuk petarung. Udeng harus dikenakan oleh peserta tanding sebagai tanda yang membedakan antara petarung dengan penonton. Selendang dilingkarkan dan diikat pada bagian pinggang petarung. Sementara payung sekedar sebagai simbal untuk menghormati para petarung yang hendak turun ke arena laga.

Bambu, tali (tampar), dan jerami digunakan di arena okol. Bambu sebagai penyangga batas dimana satu sama lain saling dihubungkan dengan tampar. Pembatas arena ini juga berfungsi sebagai pembatas penonton agar tidak masuk ke dalam arena olahraga yang meyerupai gulat itu. Jerami sebagai alas, sekaligus melindungi petarung dari cedera ketika dibanting.

Kalau masa dulu okolan ini biasa diselenggarakan di tanah lapang atau di sawah, atau pula di halaman rumah yang cukup luas. Setidaknya di lahan yang bisa menampung orang banyak, yang datang untuk menonton pertarungan gulat tradisional tersebut. Tetapi sekarang karena semakin terbatasnya lahan, dan agar para penonton bisa melihat dengan sempurna setiap pertarungan, maka okolan kini dilakukan di atas panggung yang dibuat membentuk arena.

Dan kelengkapan yang lain, seperti alas yang disiapkan dari bahan jerami. Menurut sumber Mossaik, sempat digunakan alas matras atau kasuran. Tetapi kemudian tidak dipakai lagi karena dianggap kurang pas. Mengingat ini olahraga tradisional, dan lebih pas bila menggunakan bahan yang alami yang mudah didapat di sekitar.

Dari tumpukan jerami tersebut, akan mengepul debu bila kejatuhan badan para petarung. Tak sedikit di antara para penonton harus menutup wajahnya untuk menghindari sergapan debu yang dibawa angin. Belum lagi rasa gatal di badan para pegulat, kala mereka harus berguling-guling di atasnya. Namun semua itu merupakan bagian yang mewarnai keceriaan dalam menyaksikan okolan.

Peralatan lain yang melengkapi adalah gamelan untuk mengiringi pertarungan. Alat musik tradisional ini dimainkan menjelang pertarungan dimulai. Tujuannya adalah untuk memberi semangat. Jenis gending yang dimainkan adalah gending becek.

Sebagai salah satu rangkaian dari upacara adat, okolan mempunyai tujuan umum sebagai ajang silaturahmi dan persahabatan di antara masyarakat. Hanya sekedar hiburan, namun mampu hadirkan kebersamaan.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2012/05/10/okolan-sambikereb-surabaya/
Comments
Loading...