Nyadran Kali untuk Air Mengalir dari Merbabu

0 56

Nyadran Kali untuk Air Mengalir dari Merbabu

Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Muhadi (65) bersandal jepit dengan serampat warna biru sudah kusam dan mengenakan jas, celana panjang, serta peci serba warna hitam, memimpin warga setempat menjalani tradisi Nyadran Kali di sumber air dekat aliran Sungai Puyam di kawasan barat lereng Gunung Merbabu.

Tradisi mereka setiap tahun berlangsung bertepatan dengan perhitungan kalender Jawa, pasaran Kliwon, setelah pertengahan bulan Sapar. Letak mata air yang dipercaya warga ditunggu pepunden yang mereka sebut sebagai Kanjeng Sunan Aji itu, di Dusun Jamusan, Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, sekitar 2,5 kilometer dari Dusun Warangan. Mata air itu juga disebut dengan Tuk Jamus. Sejak 1978, air dari sumber itu disalurkan menggunakan pipa paralon oleh masyarakat setempat menuju dusunnya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik rumah tangga maupun pertanian. Di berbagai tempat di Dusun Warangan telah dibangun 13 bak penampungan air untuk selanjutnya mereka menyalurkan air tersebut menggunakan pipa paralon ke rumah masing-masing. Warga Warangan saat ini berjumlah 155 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa.

Menurut pemimpin komunitas seniman petani setempat yang tergabung dalam Sanggar Warangan Merbabu, Handoko.”Yang kami anggap aneh itu, air dari mata air Kali Puyam hanya mengalir untuk dusun kami. Kalau untuk dusun di bawah Warangan, alirannya sudah mati, kalau dipakai untuk warga dusun di atas tempat kami, airnya tidak bisa matang kalau dimasak”.

Sebagai upaya pelestarian sumber air Kali Puyam itu, para sesepuh dusun merintis tradisi ritual di tempat itu setahun sekali, dilanjutkan dengan pentas berbagai kesenian tradisional di dusun setempat.

Sekitar seminggu sebelum jatuh hari “H” pelaksanaan tradisi itu, warga bergotong royong membersihkan bak air, baik di tempat utama di sumber air Kali Puyam dan lingkungan sekitarnya maupun di berbagai bak penampungan di dusun setempat. Kerja bakti mereka jalani secara cepat agar prosesi tradisi ritual mereka tetap bisa berjalan dengan lancar.

Mereka yang menjalani tradisi ritual itu berjumlah puluhan orang, dengan masing-masing mengenakan pakaian tampak rapi, termasuk Kepala Dusun (Bayan) Warangan, Ismadi. Selain itu, para penari soreng dan penabuh musik kontemporer gunung “truntung” yang menjadi kesenian tradisional warga setempat juga menyertai prosesi tersebut.

Seorang warga setempat, Wardoyo, berjalan sambil menyunggi tenong berisi sesaji, sedangkan seorang lainnya yang bersurjan motif lurik, Slamet, menggendong tenggok dengan selendang. Tenggok kecil itu berisi nasi tumpeng. Kedua warga itu berjalan paling depan dengan, mengapit langkah Muhadi menuju mata air Kali Puyam.

Berbagai sesaji itu ditata di beberapa lembar daun pisang di atas ancak yang diletakkan di bawah batu besar mata air tersebut. Sesaji tersebut antara lain bunga mawar warna merah dan putih, tembakau, kemenyan, nasi tumpeng, ingkung, lauk pauk seperti tahu, tempe, dan kerupuk.

Suara gemericik air Kali Puyam dengan bebatuannya terdengar tiada henti, seakan turut memainkan irama dirinya sebagai pengiring prosesi ritual. Seorang perempuan tua berpakaian kebaya membasuh muka dengan air yang mengalir dari sumber itu, selama beberapa saat, diikuti para warga lainnya.

Source Nyadran Kali untuk Air Mengalir dari Merbabu Antara Jateng
Comments
Loading...