Nilai Pada Bahasa Panitisastra

0 225

Kode Bahasa

Yang perlu diperhatikan di dalam Kode Bahasa:

  • struktur,
  • diksi,
  • kosakata,
  • urutan kata,
  • isi teks secara harfiah.
  1. Dhandhanggula

(1)Makritya ring agnya narpasiwi,nular pralampitaning Sang Wusman,IngSurakarta wedhare,tata tri gora ratu,Ri sangkala witning winarti,Nitisastrainaran,winarnaeng kidung,kadi kadanging sarjawa,limaksana sasananing kang janmadi,adi yang kadriyana.(cuplikan tembang Dhandhanggula bait 1)

Yang artinya: akan mengerjakan perintah raja putra,meniru lambang-lambang sang wusman,di Surakarta terbabarnya,tahun 1735 dibuatnya,dinamakanNitisastra,tergubah dalam kidung,kawi yang karib kepada jarwa,lalu ditempat manusia luhur,itu kalau (boleh) mendapat perhatian.

Isi teks: cuplikan di atas menggambarkan pembuatan serat Panitisastra,atau asal muasalnya serat Panitisastra.

 (6) Arsa tumut sarwa nora bangkit, mukanira kadya lenging gua, kewala melongo bae, mangkana ing tumuwuh, wruhing wisa sakiki-siki, wisaning wong anembah, ingYwang Maha Gung, yen carobo ing tyasira, dadya reged kethuh amatuh mulintir, nembahe tan katrimah(cuplikan tembang dhandhanggula bait 6)

  1.  Sinom

(1) Muwus arum ing pareman, wiyosing sabda minta sih, den amanis manohara, den alus den ngarih-arih, prihen lunturing kang sih, ywa kongsi rengat ing kalbu, yen sira lulungguhan, lan para pandhita sami, atanyaa sagung ujaring kang sastra. (cuplikan tembang sinom bait 1)

Artinya: Berbicara dengan sangat pelan dan halus dalam percakapan, perkataan yang keluar sangatlah manis, semanis manohara, yang halus dan menasehati secara halus, jangan sampai rasa sayangnya hilang, jangan samapi hilang dari hati, dan jika kamu sedang duduk, dengan para pendeta juga, tanyakanlah semuannya tentang ucapan-ucapan yang mengandung sastra.

(7) yeku cih naning anyata, jati kula araneki, tandhaning janma utama, ing panengran tan ngendrani, iwire tan cidreng jangji, ring antara wus tinemu, yekang aran pandhita, sastra genyang ta lirneki, tar angendhak sagung patanyan, kang prapta. (cuplikan tembang Sinom pupuh 7)

Artinya: itulah nyatanya, sebenarnya itu namanya, yang menunjukkan orang utama, dapat dilihat dari tanda-tanda yang ada, tidak pernah ingkar janji, diantarannya sudah ditemukan, yang diberi nama pendeta, sastra itu terlihat menyenangkan, tidak dapat berhenti menanyakan tentang itu, yang akan datang.

Isi teks: Dalam cuplikan di atas berisi tentang bagaimana kita bertutur kata yang baik sebagai remaja atau pemuda sebagaimana semestinya. Dan juga menggambarkan seorang pendeta yang tidak pernah mengingkari janjinya.

  1. Pocung

(5)Wuwusipun, Bathara Sramba sireksu, heh Naga iya, sira apa arsa urip, iya ingsun kang tutulung marang sira. (cuplikan tembang pocung bait 5)

(6) aturipun Sang Naga inggih kalangkung, kawularsa gesang, nuhun itulung sayekti ing Bethara dadya manggih raharjo. (cuplikan Tembang pocung bait 6)

       Artinya : (5) ujarnya, Bethara Sramba kepadanya, heh kamu Naga, apa kamu ingin hidup, aku yang akan menolong mu. (6) Sang Naga menjawab, saya ingin hidup, terima kasih atas pertolongan dari Bethara semoga menjadi raharja.

       Isi teks: dari ulasan di atas berisikan percakapan antara Bethara Sramba yang ingin membantu Naga untuk menajalani hidupnya.

  1. Dhandhanggula

(1) Sampun sampat neg manusya sami, barang katon sanepa sadaya, saniskara surahsane, sayogyanya sang wiku, awan esah denya mabeki, den kukuh tapabrata, nira supayantuk, pakoleh mulyaken praja, lamun tuhu pangestuning para resi, praja anut raharja.

(3)marang wadyatantranta sakyehing, miwah sekul ulam den aumrah, palane kedhep niitine, saparentahe tinut, ajrihira pan ajrih asih, kukuh prajane karta, tekeng tepis dhusun, kawengan dana sang nata, lau mungguh ing wanudya yen alaki, olehe anak lanang. (cuplikan tembang dhandhanggula bait 1 dan 3)

       Artinya : (1) sudah tersedia untuk semua manusia, semua yang terlihat hanyalah sebuah perumpamaan, semua artinya, bagaimana seharusnya sang pendeta pertapa, jangan mengeluh jika ingin berbakti, bertapa bratalah dengan kukuh, supaya mendapat apa yang kamu inginkan, mendapatkan kemulyaan dari rakyat, dan mendapatkan restu dari para resi yang sebenarnya, rakyat ikut raharja.

(3)kepada para tentaranya, dengan nasi ikan yang lumrah,(palane kedhep nitine) semua perintahnya dipatuhi, takutmu tetapi takut karena sayang, ketentraman rakyatnya kukuh, datang di perbatasan desa, berkalungkan pemberian dari sang Ratu, terutama untuk wanita jika bersuami, mendapat anak yanh berjenis kelamin laki-laki.

       Isi Teks: (1)dari ulasan di atas,mengandung maksud jika kita layaknya pertapa,maka bertapalah secara sungguh-sungguh agar mendapatkan apa yang kita ingikan,serta mendapatkan rest dari resi. (3)nasehat untuk para wanita yang jika ingin bersuami itu harus dengan laki-laki.

  1. Kinanthi

(6) Kadi ta sang Maha Wiku, kang linewihaken dening, tar iyan pangabektining Hyang kang Maha Luwih, kalamun wong anom ika, ingkang wibawa tur mukti.

(14)Asih pawong mitranipun, tan iyan panembramaneki pandhitapanengranira, nihan wisaning kalabang, munggeng sirah unggyaneki.

(20) Kono sidaning kang ratu, sudibyo kalokeng bumi, awya na maido sira, ing wuruking para resi, dumadakan lara lapa, utama sira danami. (cuplikan tembang Kinanthi bait ke 6,14,20).

       Artinya: (6) seperti halnya Sang pendeta, yang dilebihkan, tidak seperti pengabdiannya kepada Yang Maha Segalannya, kalau pemuda itu, yang hidup senang tanpa kekurangan. (14) menyayangi seorang sahabatnya, yang tidak seperti nyanyian para pendeta pada dasanya, begitulah racunnya kelabang, yang ada di kepala ini. (20) Ratu itu, kesaktiannya terkenal di bumi, janganlah kamu  menaruh ketidak percayaan, dalam ajarannya para resi, tiba-tiba bersusah payah , kamu dinamakan yang utama.

       Isi teks : (6)mengandung maksud jika kita sebagai pemuda ingin hidup senang tanpa beban,jadilah layaknya pendeta yang senantiasa selalu mengabdi kepada Yang Maha Segalanya. (14) hendaknya kita menyayangi sahabat kita sendiri,jangan seperti keabang yang mengeluarkan upasnya,karena akan menyakiti orang lain. (20)  hendaknya kita menghargai orang yang lebih dari kita,tanpa menaruh rasa curiga terhadapnya.

  1. Asmarandana

(3)Tan sinaba dening paksi, paksi kang saba ing toya, yen pandhita upamane, tilar pangabektinira, nuju becik kang dina, supe ing penambahanipun, yekti doh lan pangerannya.

(4)Kalamun pandhita pasthi, tebih lan pangeranira, manggih cilaka lemahe, mangkana sang maharja, yen tan parikseng bala, kurang paramartanipun, anggung rengu aduduka.

       Artinya: (3) tidak pernah didatangi oleh burung, burung yang sering berada di air, seandainnya kalau pendeta, meninggalkan kebaktiannya, menuju hari yang bagus, lupa dengan statusnya sebagai pendeta, pendeta yang jauh dari Tuhannya. (4) kalau takdir pendeta, jauh dari Tuhannya, celaka yan akan dijumpai, begitu pula Sang maharaja, kalau tidak melihat para tentarannya, kurang baik budinya, akan marah.

       Isi teks: (3) walaupun orang itu berstatus sebagai pendeta,akan tetapi jika meninggalkan kebaktiannya bisa lupa dengan statusnya. (4) cuplikan di atas berisi tentang pendeta yang jauh dari Tuhannya dan akan celaka jika budinya kurang baik.

Source http://sulistiyowatiss.blogspot.co.id http://sulistiyowatiss.blogspot.co.id/2014/06/kajian-serat-panitisastra.html
Comments
Loading...