Nilai Kewanitaan dalam Budaya Jawa

0 165

Nilai Kewanitaan dalam Budaya Jawa

Istilah wanita itu sendiri berasal dari bahasa Jawa, wani dan tata. Dalam perkawinan, ada yang mengistilahkan dengan kanca wingking. Yang berarti bahwa perempuan adalah teman di dapur, dan hal itu akan mewarnai kehidupan perkawinan pasutri Jawa.

Konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun turut), menggambarkan posisi perempuan Jawa yang lemah sebagai seorang istri. Selain itu ada juga konsep mengenai istri sebagai sigaraning nyawa. Hal ini juga memberikan gambaran posisi yang sejajar terhadap perempuan Jawa.

Istilah konco wingking pun tidak selalu lebih rendah, tergantung bagaimana perempuan Jawa memaknainya. Sama seperti sutradara yang bekerja di belakang layar dan tidak pernah terlihat dalam filmnya tetapi dapat menentukan jalannya film. Sebelum mengupas filosofi tentang perempuan atau gadis Jawa, ada baiknya kita kenal dulu apa arti kata perempuan atau wanita. Setidaknya ada empat term di Jawa yang digunakan untuk menyebut perempuan.

– Wadon
Berasal dari bahasa Kawi “Wadu” yang artinya kawula atau abdi. Secara istilah diartikan bahwa perempuan dititahkan di dunia ini sebagai abdi laki-laki.

– Wanita
Kata wanita tebentuk dari dua kata bahasa Jawa (kerata basa), Wani yang berarti berani dan Tata yang berarti teratur. Kerata basa ini mengandung dua pengertian yang berbeda. Pertama, Wani ditata yang artinya berani (mau) diatur. Dan yang kedua, Wani nata yang artinya berani mengatur. Pengertian kedua ini mengindikasikan bahwa perempuan juga perlu pendidikan yang tinggi untuk bisa memerankan dengan baik peran ini.

– Estri
Berasal dari bahasa Kawi “Estren” yang berarti panjurung (pendorong). Seperti pepatah yang terkenal, Selalu ada wanita yang hebat di samping laki-laki yang hebat

– Putri
Dalam peradaban tradisional Jawa, kata ini sering dibeberkan sebagai akronim dari kata Putus Tri Perkawis, yang menunjuk kepada purna karya perempuan dalam kedudukannya sebagai putri. Perempuan dituntut untuk merealisasikan tiga kewajiban tiga kewajiban perempuan (tri perkawis). Baik kedudukannya sebagai wadon, wanita, maupun estri.

Tetapi, ada hal lain yang melekat pada perempuan jawa itu. Salah satunya adalah ketidak tegasan, bentuk “ewoh-pekewoh wong Jowo” yang dikenal penuh basa-basi.

Apalagi dengan bagaimana perempuan dicitrakan dalam karya-karya sastra Jawa kuno. Misalnya dalam Kitab Clokantara disebutkan:

Tiga Ikang abener lakunya ring loka/ iwirnya/ ikang iwah/ ikang udwad/ ikang janmasri// yen katelu/ wilut gatinya// yadin pweka nang istri hana satya budhinya/ dadi ikang tunjung tumuwuh ring cila//

Artinya: Tiga yang tidak benar jalannya di bumi yaitu sungai, tanaman melata, dan wanita. Ketiganya berjalan berbelit-belit. Jika ada wanita yang lurus budinya akan ada bunga tunjung tumbuh di batu.

Jelas bagaimana wanita dicitrakan dalam kalimat tersebut. Bahwa wanita disamakan dengan sungai dan tanaman melata yang berbelit-belit. Dan adalah ketidakmungkinan wanita untuk bisa mempunyai pendirian. Karena tidak akan ada bunga tunjung yang tumbuh di batu.

Juga tentang bagaimana perempuan dibandingkan dengan laki-laki dalam Serat Paniti Sastra:

Wuwusekang wus ing ngelmi/ kaprawolu wanudyo lan priyo/ Ing kabisan myang kuwate/ tuwin wiwekanipun/..

Artinya: Katanya yang telah selesai menuntut ilmu, wanita hanya seperdelapan dibanding pria dalam hal kepandaian dan kekuatan serta kebijaksanaanya.

Jadi dalam kalimat di atas ada ketidaksetaraan antara pria dan wanita. Walau mungkin kenyataannya bisa jadi demikian, tapi menurutku wanita kudu diberi kesempatan sama dengan laki laki.

Source Nilai Kewanitaan dalam Budaya Jawa Beritajowo.com
Comments
Loading...