Nilai Budaya Dalam Permainan Ngadu Bagong

0 267

Nilai Budaya Dalam Permainan Ngadu Bagong

Tradisi adu bagong atau duel antara babi hutan dan anjing yang banyak diselenggarakan di Jawa Barat. Dalam permainan Ngadu Bagong jika dicermati secara mendalam banyak mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kerja sama, persaingan, sportivitas, ketertiban, dan kreatifitas.

  • Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan anjing, sehingga menjadi seekor anjing aduan yang mengagumkan (kuat, tangkas, dan beringas). Untuk menjadikan seekor anjing seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor anjing aduan dapat menunjukkan kehebatannya di arena ngadu bagong. Malahan, bisa saja anjing hanya menyalak dan berputar-putar di sekitar majikannya (pemiliknya) karena ketakutan. Jika ini terjadi tentunya akan membuat harga diri pemiliknya jatuh karena jadi bahan cemoohan dan tertawaan penonton.
  • Nilai kerja sama tercermin dalam proses ngadu bagong itu sendiri. Permainan ngadu bagong, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak, seperti: pemilik arena, pemilik anjing aduan (peserta), dan penonton. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan ngadu bagong dapat terselenggara dengan baik.
  • Nilai persaingan tercermin dalam arena ngadu bagong. Dalam konteks ini para peserta permainan ngadu bagong berusaha sedemikian rupa agar anjing aduannya dapat bergerak cepat menyerang bagong dan menggigitnya sesuai dengan yang diharapkan. Gerakan yang gesit, sararan yang tepat dan cepat adalah dambaan para peserta. Oleh karena itu, masing-masing berusaha agar anjingnya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi, antarpeserta bersaing dalam hal ini. Sementara persaingan antarpemilik arena dilakukan dengan cara memfasilitasi arena yang dimiliki melebihi arena arena orang lain. Persaingan tersebut terjadi selain untuk mendapatkan keuntungan finansial dari pemain dan penonton, juga untuk memperoleh kedudukan sosial baik di kalangan pemilik arena maupun pe-ngadu bagong. Pemilik arena akan menempati status sosial yang tinggi dan bahkan lebih tinggi dari pe-ngadu bagong, jika ia mempunyai arena yang besar dengan fasilitas yang lengkap yang dapat memanjakan pemain dan peminat ngadu bagong.
  • Nilai sportifitas tercermin dalam pertarungan antara anjing aduan dan bagong di arena ngadu bagong. Para peserta yang anjing aduannya lamban atau malah tidak banyak berbuat (hanya menyalak dan bukannya menyerang bagong) biasanya hanya tertawa kecut. Ia akan mengakui kekurangberhasilannya dalam melatih anjing, dan sekaligus memuji peserta lain yang anjingnya dapat memperlagakan kehebatan dalam melawan dan atau menyerang bagong. Sementara, pemilik anjing yang memperoleh pujian juga tidak memandang rendah pemilik lain yang anjingnya tidak hebat. Ini artinya, diantara mereka mempunyai jiwa yang besar, yaitu sportifitas dalam permainan.
  • Nilai ketertiban tercermin dalam proses permainan ngadu bagong itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk ngadu bagong, ketertiban yang diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemilik arena. Dengan sabar para peserta menunggu giliran anjingnya untuk diperlagakan. Dan, jika anjingnya menggigit bagong kemudian dipisahkan oleh petugas arena, lalu dikeluarkan dari arena, juga mematuhinya. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan.
  • Nilai kreatifitas tercermin tidak hanya pada perlengkapan yang dikenakan kepada anjing, seperti tali pengikat dan kalung yang unik, tetapi juga pada jenis-jenis anjing yang diperlagakan. Sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, diawal munculnya ngadu bagong, anjing yang diadukan adalah anjing kampung. Akan tetapi, sekarang anjing yang diperlagakan adalah anjing ras yang gesit dan beringas ketimbang anjing kampung. Ini artinya, para peserta tidak hanya puas dengan memperlagakan anjing kampung semata, tetapi selalu berusaha agar dapat memperoleh anjing yang lebih bagus. Dan, pilihannya adalah anjing ras. Oleh karena itu, dewasa ini anjing ras dengan berbagai jenisnya, seperti: Boxer, Pit Bull, Bull Terier, dan sebagainya mendominasi arena-arena ngadu bagong.
Source http://uun-halimah.blogspot.co.id/ http://uun-halimah.blogspot.co.id/2008/04/ngadu-bagong-jawa-barat.html
Comments
Loading...