Ngubek Leuwi,Tradisi Menangkap Ikan di Muara Sungai Cipasarangan

0 93

Ngubek Leuwi,Tradisi Menangkap Ikan di Muara Sungai Cipasarangan

Tradisi ngubek leuwi merupakan ritual menangkap ikan di sungai secara bersama-sama dengan tangan kosong. Tradisi tahunan yang digelar sejak 2010 ini merupakan ungkapan rasa syukur warga Cikelet Garut Selatan atas berbagai nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kebahagiaan itu mereka sempurnakan dengan berkumpul bersama sanak keluarga dan juga silahturahmi sesama warga saat Lebaran. Kegiatan silaturahmi antarwarga desa kemudian menjadi lebih semarak dengan adanya tradisi ngubek leuwi yang merupakan bagian dari gelaran festival budaya dan seni.

Kegiatan ngubek leuwi sekaligus juga ditujukan untuk membangun kesadaran warga terhadap kelestarian daerah aliran sungai (DAS) yang selama ini menjadi salah satu sumber kehidupan warga. Apalagi, kesadaran memelihara lingkungan, termasuk hulu sungai Cipasarangan semakin menurun. Ada sekelompok orang yang justru melakukan perusakan sumber air di hulu sungai. Padahal, Desa Cikelet merupakan salah satu daerah potensial periwisata di Jawa Barat yang terletak di ujung selatan Kabupaten Garut. Di kawasan ini terdapat aneka objek wisata yang menyajikan pesona alam luar biasa terutama pantainya. Di antaranya adalah wisata pantai, seperti Pantai Sayang Heulang, Pantai Santolo, dan Pantai Rancabuaya.

Kecamatan Cikelet juga memiliki kekayaan budaya yang khas, yaitu kampung adat Dukuh. Kampung tradisional ini masih teguh mempertahankan identitas tradisi kampung Sunda lama. Letaknya di kaki Gunung Dukuh, sekitar 10 km dari pusat kecamatan Cikelet. Dilihat dari sejarahnya, masyarakat adat Dukuh memiliki wilayah adat dengan batas Gunung Ragas (dalam istilah masyarakat setempat disebut haur duni) di sebelah utara, Laut Selatan atau Samudra Hindia di sebelah selatan, Sungai Cimangke di sebelah barat, dan Sungai Cipasarangan di sebelah timur. Batas-batas ini kemudian secara administratif dijadikan batas Desa Cijambe.

Salah satu ujaran hidup kampung adat Dukuh yang berkaitan dengan bidang pelestarian alam adalah ulah coba-coba motong iwung bitung di tonggoh sabab bisa edan salelembur. Maknanya adalah melarang orang mengambil atau menebang pohon di lereng gunung sebab bisa mengakibatkan orang sekampung menjadi gila.

Ujaran itu sudah dijalankan sejak beratus-ratus tahun lalu. Tidak ada yang berani melanggarnya karena takut gila. Sebenarnya, hutan itu dikeramatkan karena berada di kawasan lereng pegunungan yang curam. Luasnya 10 hektare dan merupakan daerah resapan air, termasuk mata air sungai Cipasarangan. Jika hutan ini terganggu, selain warga sekampung di bawahnya akan kesulitan air, bahaya longsor dan banjir juga mengancam mereka.

Source https://1001indonesia.net/ https://1001indonesia.net/ngubek-leuwi/
Comments
Loading...