Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha, Filosofi Hidup Orang Jawa

0 164

“Sugih tanpa bandha, Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, Menang tanpa ngasorake, artinya: Menyerbu tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan, kesaktian tanpa ajian, kekayaan tanpa kemewahan merupakan arti dari filosofi ini. Makna dari kata-kata tersebut adalah kita sebaiknya menjadi pemberani meski berjuang sendirian dan selalu menjaga wibawa serta selalu bersyukur.

  1. Sugih tanpa bandha (kaya tanpa harta), kata “sugih” biasanya selalu dihubungkan dengan banyaknya harta yang dimiliki oleh seseorang. Kata “sugih” pada ungkapan ini mengarah pada konsep kekayaan secara batiniah. Seseorang tidak usah menunggu kaya untuk bisa memberi sesuatu kepada orang lain. Ketika Anda banyak dibutuhkan orang, secara batiniah sebenarnya anda sudah menjadi orang kaya. Tatkala kehadiran Anda sangat berarti bagi orang lain (meaningful presence) pada saat itu Anda seharusnya merasa bersyukur atas anugerah Tuhan yang telah memberikan “kelebihan” sehingga Anda mendapat kesempatan untuk “nandur kabecikan” (menanam kebaikan).
  2. Digdaya tanpa aji (Sakti tanpa ajian/ilmu kesaktian), Digdaya artinya tidak mempan segala jenis senjata. Aji itu bisa berupa mantra atau benda (keris, akik, gada wesi kuning, dll.) Digdaya secara batiniah tatkala kita tidak punya musuh, tidak pernah menyakiti hati orang, tepa salira dan tenggang rasa. Senjata andalah kita adalah “tresna sejati” (cinta sejati) yang membuat orang lain tidak memiliki alasan untuk membenci, apalagi menyerang kita. Tresna sejati sifatnya tidak memihak dan semua makhluk berhak mendapatkan “tresna sejati” yang kita miliki. “tresna sejati” akan membuat kita menjadi orang merdeka yang mencapai tentrem (tentram), ayem (tidak terusik) dan lerem (mengendapkan pikiran)
  3. Nglurug tanpa bala (Maju perang tanpa pasukan), hidup ini laksana peperangan abadi, bukan secara fisik namun secara batiniah. Seorang kesatria tidak akan gentar menghadapi pasukan buta (raksasa) sebanyak apapun. Itu setidaknya yang digambarkan di pewayangan pada perang kembang. Apakah Anda bekerja di lingkungan yang suka korup? Di situlah peperangan itu terjadi. Musuh Anda bukan rekan/atasan Anda yang korup, tetapi musuh terbesar kita adalah nafsu kita sendiri. Tunjukkan pada lingkungan Anda, bahwa Anda lebih berbahagia dengan makan dari gaji resmi Anda. Jangan pernah mengeluh saat Anda kekurangan uang. Jangan sombong rohani, yang menunjukkan Anda paling suci di antara mereka semua. Ketulusan dan keikhlasan hati Anda akan membuahkan hasil yang tak pernah Anda fikirkan betapa dahsyat dampaknya.
  4. Menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan orang lain), Jangan pernah Anda berfikir, bahwa hidup adalah persaingan. Kita harus selalu berpijak pada “benering bener” (kebenaran sejati). Biasakan berdialog dengan nurani kita, dalam heneng (tenang) dan hening (mengosongkan fikiran) kita biarkan Tuhan berbicara tentang hukum baik buruk, boleh tidak boleh, mulia tidak mulia dll. biasakan mendengarkan suara-Nya. Fikiran kita kadang-kadang “ngapusi” (menipu). Biasakan berdoa tengah malam (pk. 00.00) sesuai dengan agama Anda. Menjaga setiap kata juga merupakan senjata ampuh.

Jangan sekali-kali mengganjal atau merintangi orang lain untuk memperoleh impiannya, namun sebaliknya Anda harus aktif membantu orang lain untuk memperoleh keinginannya. Pencapaian cita-cita hanya memuaskan fisik semata, namun mengalahkan iri hati, dengki, takabur dll, adalah kemenangan sejati. Kemenangan semacam itu adalah kemenangan tanpa mengalahkan orang lain.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/robit/sugih-tanpa-bandha-digdaya-tanpa-aji-nglurug-tanpa-bala-menang-tanpa-ngasorake_550ab509813311e078b1e2df

Leave A Reply

Your email address will not be published.