Ngilo Githoke Dhewe, Belajar Bisa Rumangsa

0 79

Ngilo Githoke Dhewe, Belajar Bisa Rumangsa

Manusia memang ketempatan sifat egois. Kata “Saya” adalah kata yang jauh lebih banyak diucapkan daripada “kita” atau “anda”. Semua yang paling baik dan benar adalah “saya” dan kalau ada yang tidak baik atau tidak benar maka itu adalah kapling “anda”.

Barangkali ada yang masih ingat ceritera masa kanak-kanak dulu tentang “putri salju”, sang ibu tiri yang setiap hari  bercermin di hadapan cermin ajaibnya: “Wahai cermin ajaib, siapakah wanita yang paling cantik? Jawaban selalu “andalah yang tercantik”, kecuali setelah kedatangan si putri salju. Tidak mau mengakui kelemahan diri ini tercermin pula dalam peribahasa Indonesia: “Buruk rupa cermin dibelah”.

Dalam kehidupan Jawa sebenarnya perilaku seperti di atas amat tidak disarankan. Masalahnya “Jawa panggonane semu” sehingga budaya Jawa tidak terus terang mengatakan kamu harus begini atau begitu, kamu kurang ini atau kurang itu.

Ngiloa Githokmu Dhewe

Jelas tidak mungkin kita melihat belakang kepala kita. Biarpun pakai cermin, tetap tidak mungkin. Ungkapan ini bisa digunakan untuk menegur atau menasihati, tetapi yang biasa dipakai adalah untuk ngrasani: “Ana wong kok ora gelem ngilo githoke dhewe” (Orang kok tidak mau bercermin ke tengkuknya sendiri).

Misalnya saya ditegur “Mbok ngiloa githokmu dhewe”. Kalau dipikir malah merupakan teguran sia-sia. Menegur secara tidak jelas untuk satu hal yang saya tidak tahu. Kecuali saya cukup arif, tahu kalau tidak mungkin ngerti, maka dengan lapang dada saya mau bertanya: “Lalu apa kekurangan saya? Yang satu omong semu dan satunya tanggap.

Bukankah melihat tengkuk hanya bisa dilakukan dengan dua cermin? Berarti dalam pengembangan diri sebagai manusia, kita butuh orang lain. Dalam menapaki hidup ini, kita  butuh teman. Apakah ada orang yang berani mengatakan “Rumangsa ora butuh kanca?”

Source http://iwanmuljono.blogspot.com/ http://iwanmuljono.blogspot.com/2012/10/ngilo-githoke-dhewe-belajar-bisa.html
Comments
Loading...