Nggumbregi, Upacara Adat Sebagai Rasa Syukur Kepada Tuhan Oleh Masyarakat Karanggede

0 155

Upacara adat Gumbregi dimaksudkan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki berupa hewan piaraan raja kaya (kambing, sapi, dll.) serta mohon keselamatan untuk seluruh warga. Upacara ini diadakan pada waktu pagi hari di tempat yang agak lapang di dusun Karanggede. Tradisi tersebut diperingati setiap hari Jumat kliwon di bulan Ruwah, bulan dalam kalender Jawa sebeleum datangnya bulan Ramadhan.

Upacara itu diawali dengan mengarak sebuah gunungan ketupat dan berbagai ubarampe serta sesajen lainnya. Arak arakan diawali oleh barisan bregada prajurit dengan pakaian khas prajurit Mataram. Di belakang gunungan kupat beberapa warga juga menuntun ternak mereka mengikuti arak arakan. Tak lupa untuk memeriahkan sebuah sukuran kelompok kesenian kuda lumping menyertainya

Berangkat dari lapangan dusun hingga masjid setempat dengan jarak sekitar satu kilometer, arak-arakan menjadi tontonan warga. Mereka sudah menanti jalannya arak-arakan sejak pagi karena warga akan berebut ketupat yang dibawa tersebut dengan harapan bisa ikut mendapatkan berkah dengan merebut gunungan.

Setelah sampai finish dilakukan upacara adat dan doa. Pada puncaknya gunungan kupat diperebutkan. Kemudian gunungan dimakan bersama-sama.

Tidak hanya warga saja yang lahap menyantap ketupat dari gunungan, namun hewan ternak milik para warga juga tak mau ketinggalan diberi makan ketupat dari gunungan. Memberi makan hewan ternak dengan ketupat juga merupakan salah satu tradisi dalam upacara adat ini.

Warga percaya memberikan makan ketupat kepada hewan ternak bisa membawa berkah berupa kesehatan dan keselamatan kepada hewan ternak. Dengan demikian bisa diajak kembali hingga setahun kedepan untuk ikut panen

Acara tersebut rutin dihelat setiap tahun oleh warga Karanggede. Setidaknya terdapat 514 ketupat yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi gunungan yang kemudian diperebutkan oleh warga setelah kenduri dan doa bersama dilakukan.

Ini sebagai ungkapan rasa syukur warga kepada Tuhan yang telah memberikan kelancaran hingga masa panen selesai. Ketupat dan pelas tawon menjadi makanan khas yang selalu ada dalam acara ini. Menggunakan ketupat untuk mengungkapkan syukur merupakan ajaran Sunan Kalijaga.

Dia mengatakan, upacara tersebut tidak usah diperdebatkan. Ini kepercayaan sudah turun temurun memberi makan ketupat kepada kerbau, sapi, kambing hingga ayam.

Source https://www.koranbernas.id https://www.koranbernas.id/nggumbregi-sebagai-ucapan-syukur-desa/
Comments
Loading...