Ngalungsur Pusaka, Salah Satu Upacara Adat Kasundaan Di Jawa Barat

0 266

Ngalungsur Pusaka, Upacara Adat Kasundaan

Upacara adat Sunda ini beraneka macam. Ada upacara adat pernikahan, upacara adat pertanian, ada juga upacara adat yang berbau religi. Di bawah ini beberapa jenis upacara adat yang masih berbau religi Kasundaan yang tetap dihidupkan para penghayatnya. Salah satunya yaitu Ngalungsur Pusaka.

Ngalungsur Pusaka

Merupakan upacara penyucian benda-benda pusaka. Upacara ini dilakukan oleh seorang juru kunci atau kuncen. Tujuannya untuk membuktikan bahwa mereka masih melestarikan tradisi nenek moyang sekaligus memberitahukan pada masyarakat tentang keberadaan pusaka peninggalan Sunan Rochmat Suci. Upacara ini biasanya dilakukan di Garut.

Upacara ini, bukan menghormati pusakanya, tapi menghormati (Syech Sunan Rochmat Suci) yang telah berjasa menyebarkan ajaran agama Islam disini,” kata Ketua Juru Kuncen Makam Godog, Ahmad Syarifudin.

Prabu Kiansantang merupakan seorang anak dari Raja Padjadjaran yakni Prabu Siliwangi yang menyebarkan agama Islam di tanah Pasundan, dan dimakamkan di Gunung Suci, Garut. Upacara adat “Ngalungsur Pusaka” tersebut selalu digelar di makam Godog setiap satu tahun sekali atau dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Upacara membersihkan benda pusaka tersebut, ditegaskan Ahmad bukan menyembah suatu benda yang diyakini akan memberikan sebuah keajaiban atau melebih kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan sebagai cara melestarikan budaya seperti menjaga peninggalan benda-benda pusaka zaman dulu. Para peziarah yang datang ke makam Godog tersebut oleh pihak kuncen selalu diingatkan bahwa melestarikan benda pusaka dan menghormati pemiliknya itu bukan menyembah pusaka.

Upacara adat “Ngalungsur Pusaka” digelar dengan hati-hati dari awal dibawanya tempat benda pusaka yang disimpan di makam, hingga ke aula dan dilakukan pembersihan kemudian dikembalikan ke tempat semula oleh kuncen berseragam gamis identik warna hijau.

Prosesi upacara adat yang digelar tersebut, ditegaskan Ahmad bukan berarti mengunggulkan benda pusaka sehingga timbul keyakinan akan memberikan barokah melainkan bentuk penghormatan agar benda tersebut terjaga baik.

Keberadaan benda pusaka tersebut, diceritakan Ahmad berawal ketika Syech Sunan Rochmat Suci membawa benda tersebut dengan sebuah peti kayu dari tempat keramaian kerajaan Padjadjaran. Dengan bekal benda pusaka tersebut Syech Sunan Rochmat Suci mendapatkan ilham harus menyebarkan ajaran Islam ditempat lain hingga akhirnya mendapatkan petunjuk dengan menempatkan benda pusaka di Gunung Suci yang sekarang menjadi tempat pemakamannya.

Benda pusaka tersebut disimpan Syech Sunan Rochmat di Gunung Suci setelah beberapa tempat telah dilakukan untuk mencari petunjuk menyebarkan ajaran agama Islam. Dalam petunjuk itu, peti yang berisikan benda pusaka tersebut bergoyang dan diyakini Gunung Suci sebagai lokasi yang harus memberikan perubahan yang lebih baik kepada masyarakat dengan menganut agama Islam.

Source http://blog.isi-dps.ac.id http://blog.isi-dps.ac.id/hendra/?p=267
Comments
Loading...