Ngabekten Kraton Jogjakarta

0 214

Ngabekten Kraton Jogjakarta

Mempelajari lebih jelas mengenal secara dekat kebudayaan  Ngabekten yang berasal dari Yogyakarta melalui tulisan Maharkesti yaitu seorang peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.  Sebuah tradisi memiliki tujuan melestarikan kebudayaan, adat  untuk selalu dikenang dan dipelajari bahkan menjadi kebiasaan pada acara tertentu.

Mengenal Ngabekten  yaitu merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan di Kraton  Yogyakarta. Tradisi ini selalu diadakan setiap tahun, yaitu pada setiap hari raya Idul Fitri. Kalau dilihat dari asal katanya, ngabekten berasal dari kata bekti (bahasa Jawa) yang artinya berbakti atau tingkah laku seseorang untuk menghormati kepada orang tua atau yang dituakan dan orang yang dihormati. Tradisi ngabekten masih berlangsung di rumah-rumah keluarga Jawa, termasuk di lingkungan Kraton Yogyakarta.

Ngabekten dilakukan pada saat dilaksanakan upacara lingkaran hidup, misalnya tetesan, supitan, tarapan, upacara perkawinan dan saat hari raya lebaran. Maksud dari penyelenggaraan tradisi ngabekten adalah sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada Sri Sultan sebagai junjungan mereka, yang telah memberi rezeki dan pengayoman selama mereka mengabdi di kraton. Selain itu, tradisi ngabekten keraton Yogyakarta juga dimaksudkan untuk meminta maaf kepada junjungannya atas segala kesalahannya, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Tradisi ngabekten juga diselenggarakan dengan maksud untuk memohon doa restu orang tua supaya tidak mendapat halangan dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Mereka mulai ngabekti pada jam 20.00.

Terdapat perbedaan antara Tradisi Ngabekten di keraton  dan zaman dahulu dengan sekarang. Pada zaman dahulu, tradisi Ngabekten pernah diadakan selama satu minggu berturut-turut ,kemudian menjadi tiga hari berturut-turut dan terakhir, sampai saat ini hanya diadakan selama dua hari berturut-turut, yaitu pada bulan Syawal tepatnya tanggal 1 dan 2 Syawal. Tanggal 1 untuk kaum laki-laki dan tanggal 2 untuk kaum wanita dan abdidalem reh Kawedanan Kapangulon dan abdidalem reh Kawedanan Hageng Sriwandawa bagian puralaya.

Tradisi ngabekten pada tanggal 2 Syawal untuk kaum wanita, namun ada sekelompok yang terdiri dari kaum laki-laki. Pelaksanaan tradisi ngabekten pada tanggal 2 Syawal juga dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

Kelompok pertama dimulai jam 09.00. kelompok pertama ini terdiri dari :
• Prameswari
• Para putri Sultan yang belum kawin
• Para janda Sultan yang belum kawin lagi
• Para istri pangeran
• Para janda pangeran yang belum kawin lagi
• Para cucu perempuan Sultan
• Para istri cucu laki-laki Sultan
• Para janda dari cucu laki-laki Sultan yang belum kawin lagi
• Para istri abdi dalem bupati sampai dengan para istri kanjeng pangeran harya
• Para janda dari abdi dalem bupati sampai dengan para istri kanjeng pangeran harya
dan para janda dari kanjeng pangeran harya yang belum kawin lagi.
• Abdi dalem putri yang berpangkat bupati dari daerah.

Kelompok dua dimulai jam 13,00 yang terdiri dari :

  • Para abdidalem keparak yang berpangkat bekel enom sampai dengan yang
    berpangkat riya bupati enom
  • Para cicit sampai dengan para canggah perempuan Sultan
  • Para istri cicit sampai dengan para istri canggah laki-laki Sultan
  • Para janda dari cicit sampai dengan para janda dari canggah laki-laki Sultan yang
    belum/tidak kawin lagi.

Kurang lebih satu bulan sebelum pelaksanaan, Kawedanan Hageng Sriwandawa Kraton Yogyakarta mengeluarkan buku berjudul “Pranatan Pasowanan/Parakan Ngabekten” yang berisi peraturan ngabekten pada bulan Syawal.

Buku tersebut dibuat setiap tahunnya dan disebarluaskan sebagai buku panduan pelaksanaan ngabekten. Urutan duduk dalam tradisi ngabekten juga sudah diatur. Urutan duduk dimulai dari kerabat paling dekat dengan Sultan. Busana yang dikenakan dalam tradisi ngabekten sudah ada aturannya, baik untuk laki-laki maupun wanita. Ketika pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, semua berpakaian kebesaran, misalnya unuk laki-laki mengenakan kain kampuh, bercelana panjang putih, berkuluk biru, tidak berbaju dan tidak bersandal. Busana untuk abdi dalem bupati hanya kuluknya yang putih, sedangkan wanitanya mengenakan kampuh, tidak berbaju dan tidak bersandal.

Dalam pelaksanaan Tradisi ngabekten Kraton Yogyakarta terdapat larangan-larangan yang harus dipatuhi antara lain:

  1. Pakaian yang dikenakan tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang ditulis dalam buku pranatan
  2. Jika Sri Sultan telah hadir dalam pelaksanaan Ngabekten yang datang terlambat dilarang menyusul, kecuali abdi dalem yang sedang melaksanakan tugas menyerahkan hajat dalem gunungan kepada abdi dalem penghulu, diperbolehkan menyusul.
  3. Mundur dan majunya yang akan ngabekti harus menunggu perintah dari Sri Sultan. Kalau ada yang mundur sebelum selesai, tidak diperbolehkan kembali lagi.
  4. Selama sowan/marak tidak diperbolehkan membaca, berkata keras-keras, menunjuk ke arah sesuatu (Jawa=nuding), terlebih kalau Sultan telah ahdir.
  5. Pada saat ngabekti tidak boleh menyandang senjata tajam.
  6. Harus urut satu per satu dan rapi sesuai dengan urutan dalam peraturan

 

Source Ngabekten Kraton Jogjakarta badan perpustakaan dan arsip daerah-daerah istimewa yogyakarta
Comments
Loading...