Mudun Lemah di Cirebon

0 55

Mudun Lemah di Cirebon

Orang Jawa menyebutnya “Mudun Lemah”. Tradisi Tedak Siten atau Mudun Lemah dilakukan saat seorang anak berusia 7 lapan yaitu saat berusia 7 sampai menginjak bulan ke delapan. Karena pada usia ini anak mulai menapakkan kakinya pertama kali di tanah yaitu dengan belajar duduk dan belajar berjalan.

Alat alat yang diperlukan dalam Prosesi “Tedak Siten” adalah sebagai berikut:
1. Juadah 7 warna
2. Tangga Tebu dan injak – an Pasir/Tanah
3. Kurungan ayan dan beras ketan isi koin
4. Tumpeng beserta sayur urap dan ayam

Budaya Tedak Siten (Mudun Lemah), prosesinya adalah sebagai berikut :
1. Acara Tedak Siten ini di mulai dengan Menapaki juadah 7 warna, Juadah disini terbuat dari beras ketan dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih. Dan 7 warna disini yaitu hitam, kuning, hijau, biru, merah, putih, jingga.

Warna warna ini mempunyai makna sebagai berikut :
Putih = Watak Dasar
Biru = Jati Diri
Hijau = Lambang Kehidupan
Jingga = Matahari
Merah = Semangat
Kuning = Harapan tercapai cita2
Hitam = Keagungan

“Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghapai banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. jadah 7 warna disusun mulai dari warna yang gelap ke terang”.

2. Selanjutnya si anak Menaiki Tangga, dimana tangga ini terbuat dari Tebu jenis Arjuna,yaitu tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati dan dihiasi kertas warna- warni. Hal ini dimaksudkan agar dalam menapaki (menjalani) hidupnya, apa yang di lakukan seorang anak diharapkan semakin meningkat. Dan mampu melewati halangan dan rintangan hidupnya kelak.

3. Kemudian di teruskan menapaki pasir, ini dimaksudkan agar dalam dalam menjalani hidupnya dia siap dengan halangan atau rintangan apapun yang menghadangnya.

4. Setelah menapaki pasir, anak di bimbing di sebuah kurungan ayam yang telah dihiasi dan didalamnya terdapat beberapa mainan, alat tulis, uang, hp, stetoskop dan sebagainya. Dan Kemudian anak di suruh mengambil barang yang di sukainya.
Dimana barang yang dipilih si anak merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang diminatinya kelak setelah dewasa.

5. Prosesi selanjutnya adalah sebar beras kuning yang telah dicampur dengan uang logam untuk di perebutkan (dalam hal ini yang menaburkan adalah di wakili bapaknya) , prosesi ini menggambarkan agar si anak kelak menjadi anak yang dermawan, suka bersedekah dalam lingkungannya.

6. Prosesi terakhir yaitu si anak dimandikan dengan bunga setaman ( kenapa diberi bunga?? …. mungkin jaman dulu belum ada minyak wangi mungkin yaaaa?? , agar ntuh air bisa wangi .. heheeheh ). Lalu mengenakan baju yang baru.
Tujuannya yaitu agar si anak tetap sehat, membawa nama harum bagi keluarga, punya kehidupan yang layak, makmur dan berguna bagi nusa bangsa.

Setelah dimandikan, si anak diganti bajunya dengan baju yang baru. Diacara ini, sianak diumpamakan ganti baju sampai 7 kali, dimakan dicari yang cocok di badangnya. Akhirnya baju yang terakhirlah yang cocok untuk dia.

Setelah semua Prosesi tersebut dilaksanakan, kemudian memotong Tumpeng yang di lengkapi dengan sayur urap (hidangan yang terbuat dari sayur kacang panjang, kangkung dan kecambah yang diberi bumbu kelapa yang telah dikukus atau disangrai)dan ayam.

Tumpeng melambangkan permohan orang tua kepada sang Maha Pencipta agar si anak kelak menjadi anak yang berguna, sayur kacang panjang bermakna simbol umur agar si anak berumur panjang, sayur kangkung bermakna dimanapun si anak hidup dia mampu tumbuh dan berkembang, sayur kecambah merupakan simbol kesuburan dan ayam mengartikan kelak si anak dapat hidup mandiri.

Source http://etnikom.com http://etnikom.com/mudun-lemah-di-cirebon/
Comments
Loading...