Mitos Warga Lengkong Tidak Boleh Makan Lele

0 132

Mitos Warga Lengkong Tidak Boleh Makan Lele

Dahulu sekitar tahun 1810 ada sejumlah pendatang di wilayah Lengkong. Mereka adalah Suliswanto dari Kudus, Brahmono dari Kudus, Singolodro dari Kudus, Muntoredjo dari Tunggorono, Pawiroredjo dari Tunggorono, Djojo Sentono dari Mataram, Srigati dari Mataram, Putri Sri Lestari dari Mataram, dan Eyang Budho dari Bali. Namun dari Sembilan pendatang baru tersebut masing-masing memiliki pengikut setia hingga jumlahnya 127 orang.

Pada waktu itu, kondisi daerah tersebut masih ditumbuhi hutan lebat. Ibarat jalmo moro jalmo mati, sato moro sato mati – (artinya wilayah Lengkong benar-benar angker dan gawat – jarang dihuni oleh manusia). Pada suatu hari, ke-127 orang tersebut mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah membuka lahan baru sebagai permukiman penduduk.

Hanya saja, tempatnya yang masih angker, banyak dihuni binatang buas dan kehidupan ghaib, sehingga mereka memutuskan untuk memilih seorang pemimpin yang mumpuni dalam segala hal. Mumpuni dalam segala ajian jaya kawijayan dan cerdas.

Akhirnya, mereka tertuju kepada Eyang Budho dari Bali. Menerima amanah sebagai seorang pemimpin, Eyang Budho tidak bisa mengelak, meskipun tanggung jawab yang ditanggungnya sangat berat. Tepatnya di hari Jum’at Legi, bulan ke-6, tahun 1810 mereka mulai membabat hutan untuk dijadikan permukiman. Dalam waktu sekejap, hutan yang dulunya angker, banyak dihuni binatang buas dan kehidupan ghaib, berubah menjadi perkampungan yang ramai.

Suatu saat, sekitar tahun 1866, ada seorang pelarian dari Mataram bernama Kisopati minta perlindungan di sebuah desa yang baru saja dibabat itu. Dia adalah seorang Senopati Mataram yang melarikan diri karena dikejar-kejar oleh musuh (Belanda). Hanya saja sebagai seorang baru yang belum mengetahui kondisi di desa baru tersebut akhirnya nasib nahas menimpa Kisopati.

Pria tampan itu terjerumus ke dalam got (leng – sebutan warga setempat). Anehnya, Kisopati tidak tenggelam, justru dia terangkat dan terasa leng yang semestinya memiliki kedalaman hanya bisa menenggelamkan Kisopati sebatas pantatnya (bokong-bahasa Jawa), akhirnya dia bisa melompat ke daratan lagi. Ternyata, di dalam leng tersebut terdapat jutaan ikan lele, sehingga mampu menahan Kisopati kembali ke permukaan hingga selamat.

Dua tahun kemudian, Eyang Budho mengadakan pertemuan dengan warga setempat untuk membicarakan situasi desa yang berhasil dibuka menjadi permukiman. Masalahnya setelah berhasil dibabat, belum memiliki nama.

Di tengah-tengah pertemuan itu diantaranya adalah Kisopati yang diselamatkan oleh jutaan ikan lele ketika terjerumus ke dalam got dua tahun silam. Saat rapat, Kisopati termasuk orang yang terpandang karena dia berasal dari istana Kerajaan Mataram. Untuk itu, pemberian nama, diambilkan dari kejadian yang dialami oleh Kisopati pada saat seorang Senopati Mataram tersebut diselamatkan oleh jutaan ikan lele dari kejaran musuh penjajah Belanda. Saat terjerumus ke dalam leng, Kisopati tidak tenggelam, justru terangkat hingga sebatas bokong (pantat) dan akhirnya bisa melompat ke daratan lagi dan menyelamatkan diri.

Dari peristiwa itu akhirnya desa yang belum memiliki nama itu diberi nama ‘leng’ dimana kedalamannya hanya ‘se- bokong’, akhirnya berkembang menjadi nama Desa Lengkong. Juga berkat kecerdasan Kisopati dalam hal tata pemerintahan, akhirnya Kisopati diangkat menjadi pemimpin di Desa Lengkong tersebut. Eyang Budho pun menyetujui proses pengangkatan Senopati Kisopati menjadi Kepala Desa yang pertama di Desa Lengkong, tepatnya, Jum’at Legi, bulan ke-4, tahun 1869.

Dalam perjalanan sejarahnya, Desa Lengkong yang diambil dari sebuah kejadian ‘leng sing sak bokong’ tersebut, berdasarkan mitos penduduk Lengkong asli, tidak diperbolehkan makan ikan lele.

Dampak yang terjadi andaikan melanggar mitos tersebut, kejadian yang tidak diinginkan bakal terjadi. Konon menurut cerita orang Lengkong, bila penduduk asli Lengkong makan ikan lele maka muncul bercak-bercak putih ke kuning-kuningan. Penduduk setempat menyebutnya ‘bule’ atau ‘plongko’, atau belang-belang seperti ikan lele bule.

Sedangkan kondisi leng yang dihuni jutaan ikan lele masih terawat dengan baik. Oleh penduduk Lengkong, disebut Sumur Kawaka atau Sumur Gede, terletak di belakang kantor Kecamatan Lengkong.

Source Mitos Warga Lengkong Tidak Boleh Makan Lele Aynime
Comments
Loading...