Mitos Gunung Pegat Lamongan

0 68

Mitos Gunung Pegat Lamongan

Mitos ini berawal ketika zaman pendudukan Belanda, dimana rakyat Indonesia diperlakukan seperti hewan, disuruh bekerja siang-malam tanpa upah. Istilah ini dikenal dengan kerja “Rodi”. Untuk memudahkan invasi Belanda terhadap Indonesia, ketika itu masyarakat disuruh bekerja membangun Jalur kereta api 1917 yang menghubungkan antarta wilayah utara Jawa Timur dengan wilayah selatan Jawa Timur dengan menerobos gunung. Dengan susah payah masyarakat berusaha meratakan gunung untuk dibuat jalan, tidak sedikit korban jiwa dalam pembangunan jalan itu. Oleh karena itu masyarakat “menyumpahi” dengan perkataan “barang siapa yang melewati jalan ini maka akan pegatan (cerai)”.

Keberadaan mitos ini lebih dititik beratkan pada keutuhan rumah tangga bagi pengantin yang melewati Gunung Pegat. Tidak heran, jika ada rumah tangga yang hancur selalu dikaitkan dengan mitos tersebut. Hal ini menjadi problem bagi orang tua yang menikahkan Putra-Putrinya apabila berbatasan dengan Gunung Pegat, karena jika tidak sesuai dengan mitos (melanggarnya) maka banyak resiko yang akan menimpanya seperti keluarganya tidak harmonis, sengsara, rizkinya sulit, tidak punya anak, meninggal dll.
Berdasarkan pada pengalaman dan pemahaman masyarakat di Desa Karang Kembang Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, mitos “Gunung Pegat” sudah menjadi bagian peraturan yang harus benar-benar dianutnya dan tidak boleh dilanggar pasangan untuk sampai pada proses perkawinan.
Namun dalam hal ini jika ada temanten yang berasal dari utara dan selatan atau yang melewati jalan gunung pegat ini harus memberikan sesaji agar langgeng pernikahannya. Jalan ini terletak diantara jalur Babat- Jombang, kalau dari arah Jombang, letaknya sehabis melewati kota Kecamatan Ngimbang. Kalau dari arah Babat, setelah Dradah, Kedungpring/Kalen Lamongan.
Source Mitos Gunung Pegat Lamongan Ivhaa Network
Comments
Loading...