budayajawa.id

Mitos Dukuh Boto Desa Gelanglor Sukorejo Ponorogo

0 52

Mitos Dukuh Boto Desa Gelanglor Sukorejo Ponorogo

Sejumlah desa di Kabupaten Ponorogo ternyata memiliki mitos gaib yang masih dipercaya hingga jaman modern saat ini. Mitos ini memang sulit dipercaya akal, namun percaya atau tidak, masyarakat meyakininya dengan menghubungkan fakta-fakta atau peristiwa yang terjadi. Selain Golan dan Mirah, di Kecamatan Sukorejo ada satu dusun yang memiliki misteri yang cukup unik, yakni Dusun Boto, Desa Gelanglor, Sukorejo. Meski nama dusun ini berarti batu bata atau dalam bahasa Jawa Boto, namun warganya sampai sekarang ‘diharamkan’ membuat batu bata. Bahkan, jika ada warga desa lain membakar batu bata menggunakan atau tidak sengaja memakai kayu dan ranting dari dusun Boto, konon bakal tidak matang alias tidak jadi.

Namun, ada misteri yang cukup menarik dan dipercaya warganya hingga berlaku sampai sekarang. Yakni, warga dusun Boto tidak diperbolehkan membuat batu bata atau Boto. Menurut sesepuh Dukuh Boto, Jemadi (49) larangan membuat batu bata itu dilaksanakan sampai saat ini. Lantaran, dulu ada warga yang membuat bata namun ketika dibakar tidak matang.

Bahkan, berapapun kayu bakar yang disediakan untuk membakar, batu bata itu tetap hitam. “Ada itu warga yang membuat dan membakar tapi pakai kayu bertruk-truk namun tidak jadi atau tidak matang,” ungkap Jemadi yang juga ta’mir Masjid ini. Disamping itu, kayu dari dusun Boto ini pun jadi pantangan tersendiri dari pengrajian batu bata di Ponorogo. Sebab, jika sampai menggunakan kayu dari dukun Boto, maka dipastikan batu bata juga akan tidak matang. Pernah itu warga Desa Lengkong tidak sengaja memakai kayu dari Dukuh Boto, batu bata miliknya berhari-hari tidak matang. Katutan ranting secuilpun batu bata tidak akan jadi.

Dia menyebutkan, larangan membuat batu bata ini sudah diwanti-wanti leluhurnya. Berdasarkan sejarah yang dipercayai, bahwa hal ini adalah akibat larangan dari pendiri atau babat dari Dukuh Boto yang bernama Puntodewo. Dibeberkannya, konon datanglah pujangga Hindu Budha bersama tiga muridnya yang bernama Puntodewo. Kedatangannya guna membuka hutan di wilayah tersebut yang masih belantara. Ditempat itu ia hendak mendirikan tempat ibadah seperti wihara. Alangkah kagetnya dia, ketika menggali tanah untuk dijadikan batu merah, anehnya ditempat itu ditemukan batu merah dengan ukuran raksasa atau Boto. Akhirnya tempat itu dinamakan dusun Boto. “Sampai sekarang anak cucu di dusun Boto tidak diperkenankan membuat boto karena menyamai penemuan dari Puntodewo.

Source http://www.setenpo.com http://www.setenpo.com/2016/08/mitos-gaib-dukuh-boto-desa-gelanglor.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.