Mitologi Wewaran Jawa

0 316

Mitologi Wewaran Jawa

Bahasa Sansekerta dari urat kata wara di duplikasikan (Dwipurwa) dan mendapat akhiran an (we+wara+an) biasanya di sebut Wewaran. Kata wara banyak memiliki arti seperti: terpilih;terbaik; unggul. Wara juga berarti hari; mulia; utama.

 

Wewaran dapat diartikan perhitungan hari-hari. Tentang hari-hari dalam Wariga ada sepuluh jenis yang dipergunakan dalam padewasan yaitu pemilihan hari baik untuk memulai suatu pekerjaan atau yajña pada suatu daerah tertentu.

Lahirnya Mitologi Wewaran dikemukakan dalam Lontar Medangkamulan dan Lontar Bagawan Garga. Dalam Lontar tersebut diuraikan kelahiran wuku dan juga menceritakan para Dewa  adalah berwujud menjadi wewaran sebagai berikut :

Pada zaman dahulu Sang Hyang Ekayata sebagai perwujudan Taliwangke. Adapun perubahan-perubahannya ialah :

-Sang Hyang Timira menjadi Pepet,

-Sang Hyang Kalima menjadi Menga, keduanya menjadi Dwiwara.

-Sang Hyang Cika menjadi Dora;

-Sang Hyang Wacika menjadi Waya,

-Sang Hyang Manacik menjadi Byantara

-Sang Hyang Caturlokapala menjadi Caturwara,

Sedangkan  Sad Rsi berwujud menjadi Sadwara yaitu Indra menjadi Tungleh, Bharuna menjadi Aryang, Kuwera menjadi Urukung, Bayu menjadi Paniron, Hyang Bajra menjadi Was, Sang Hyang Ajrawana menjadi Maulu. Selanjutnya dalam sloka Sapta Rsi dinyatakan Sang Hyang Baskara menjadi Radite, Sang Hyang Candra menjadi Coma, Sang Hyang Anggara menjadi Anggara, Sang Hyang Udaka menjadi Buda, Sang Hyang Suraguru menjadi Wraspati, Sang HyangBregu menjadi Sukra, Sang Hyang Wasurama menjadi Saniscara. Itu semua merupakan Mitologi Wewaran.

 

Source Mitologi Wewaran Jawa pinandita sanggraha nusantara
Comments
Loading...