Merawat Tradisi Wawacan Syekh dari Banten

0 216

Jika kita menghadiri acara khitanan, kawinan, naik haji, membangun dan ruwatan rumah, membuka warung / toko baru atau membeli kendaraan baru, masyarakat Banten biasanya sering mangadakan acara wawacan syekh atau maca syekh.

Masyarakat yang menyelenggarakan acara wawacan syekh atau maca syekh berkeyakinan bahwa dengan dibacakan manaqib akan mendapatkan keselamatan, keberkahan dan keinginannya tercapai. Ritual maca syekh yang mereka lakukan pada berbagai acara bertujuan meminta keselamatan dan tolak bala.

Pembacaan manaqib tersebut dalam versi Jawa yang menggunakan dialek Banten – Cirebon.

Salim, yang malam itu diundang untuk mamaca kisah Syech Abdul Qodir Jaelani menjadi pembaca wawacan syeikh, menurut penuturannya, tidak ada persyaratan khusus selain bersih diri (lahir dan bathin) dan haqqul yaqin (tidak boleh ragu). Yang terpenting, menurutnya, memiliki niat yang tulus lillahita’ala.

Selain itu dii’tikadkan bahwa dirinya untuk menghormati, mengagungkan kalamullah, kalam rasul dan waliyullah, serta lebih-lebih untuk mendapatkan barokah (ngalap berkat, Sunda) dan karomah dari seorang Wali Qutub: Syeikh Abdul Qadir. Pada saat membaca Wawacan Syeikh, seorang pembaca disarankan untuk menghadap kiblat.

Pada setiap penyelenggaraan acara wawacan syeikh, menurut Salim yang juga biasa praktik mengkhitan ini, hendaknya tuan rumah atau ‘pengguna’ menyediakan beberapa persyaratan, yakni: air putih (cai herang) atau wajar syeikh, air susu, air kopi manis dan pahit, air teh manis dan pahit, rujak haseum (air asem), telor matang, garam, cabe merah/lombok, garam, beras, nasi liwet (yang berkerak) atau liwet syeikh dan ayam panggang (bakakak ayam). Kebutuhan tersebut sebenarnya untuk kepentingan acara itu berlangsung, tidak untuk sesajen, yang pada gilirannya pula sesaji tersebut dimanfaatkan (dimakan) oleh jama’ah yang menghadiri atau tuan rumah itu sendiri.

Sedangkan irama lagu ‘pupuh’ yang dinyanyikan dalam membaca wawacan syeikh, diantaranya asmarandana, dangdanggula, kinanti dan lain-lain.

Source http://www.toptime.co.id/merawat-tradisi-mamaca-kisah-abdul-qodir-jaelani/ http://www.toptime.co.id
Comments
Loading...