Menjaga Tradisi Leluhur Sunda ala Kampung Adat Cikondang

0 194
Kampung Adat Cikondang di Kabupaten Bandung saat ini masih bertahan sejak berdiri pada 360 tahun lalu oleh Mak Suuh. Di kampung tersebut tidak ada listrik serta lampu yang menerangi di kegelapan malam. Salah satu penerangan bagi pemukiman warga itu hanya berupa cempor.
Kuncen generasi keempat Anom Juhana mengatakan saat ini Kampung Adat Cikondang masih menyimpan peralatan leluhur seperti leuit (gudang tempat menyimpan hasil panen padi) dan lisung (tempat menumbuk padi). Di Kampung Adat Cikondang ini terdapat satu rumah yang masih dilapisi bambu dan kayu sebagai dinding. Begitu pula dengan atap yang terbuat dari ijuk dan daun alang-alang.
 Dahulu terdapat sekitar 40 rumah di kampung tersebut. Sayangnya, pada 1942 terjadi kebakaran yang melalap habis tempat tinggal hingga hanya tersisa satu. Kejadian saat itu disebabkan oleh pembakaran sampah di sebelah timur kampung. Api dari pembakaran tersebut mengenai bilik yang terbuat dari bambu lalu menyebar ke puluhan rumah lainnya.
Warga kampung adat Cikondang mempunyai filosofi yang diturunkan dari leluhur yakni yang panjang tidak boleh dikurangi, yang pendek tidak boleh disambung.  Satu hal unik yang terdapat pada rumah itu penggunaan panjang dan lebar sebagai sistem penanggalan. Panjang rumah berukuran 8 meter dan lebar 12 meter berarti satu windu terdiri dari delapan tahun dan satu tahun terdiri dari 12 bulan.
Masyarakat sekitar Cikondang biasa merayakan Maulid Nabi dengan mengadakan tumpengan dan pengajian. Tumpengan menjadi salah satu hal yang sering dilakukan ketika terdapat perayaan. Ada tiga jenis tumpeng yang disediakan antara lain padi huma, padi sawah, dan ketan. “Kenapa ada tiga? Karena leluhur kami dilahirkan di suku Gunung Tilu (tiga).”
Ketiga tumpeng tersebut diisi ayam yang berbeda warna satu sama lain. Tumpeng padi huma berisikan ayam berbulu abu-abu yang menandakan larangan akan sifat tamak/kikir. Padi sawah berisi ayam berbulu hitam merupakan seruan agar manusia harus mempunyai inisiatif dan tidak usah diperintah untuk melakukan pekerjaan. Terakhir ketan yang diisi ayam berbulu putih menandakan kesucian.
Bagi masyarakat Adat Cikondang itu bukan perbuatan musrik. Perayaan Maulid Nabi contohnya, itu dilakukan untuk mengingat sifat keteladanan Rasulullah SAW.
Source http://ayobandung.com/read/20161212/61/14051/menjaga-tradisi-leluhur-sunda-ala-kampung-adat-cikondang http://ayobandung.com
Comments
Loading...