Mengungkap Makna Tradisi Ngguwaki

0 51

Mengungkap Makna Tradisi Ngguwaki

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan tradisi daerah. Tradisi merupakan hal yang tidak bisa terlepas dari budaya bangsa Indonesia. Adanya tradisi itu diikuti dengan keyakinan masyarakat tentang hal-hal mistis di sekitar mereka. Bahkan di zaman yang serba modern ini kepercayaan-kepercayaan itu masih melekat di masyarakat. Salah satu dari berbagai tradisi yang ada di Indonesia adalah tradisi sesaji. Tradisi yang ada di masyarakat tidak serta merta ada. Tradisi terbentuk membutuhkan proses serta waktu yang panjang. Seperti halnya tradisi ngguwaki yang ada di Dusun Pending, Desa Girirejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. 

Di Dusun Pending tradisi sesaji itu lebih sering disebut dengan ngguwaki atau yang berarti membuang. Menurut masyarakat sekitar, tradisi ini memang sudah ada sejak dulu bahkan lebih kurang sejak 80 tahun yang lalu. Makna luhur tradisi yang terkandung dalam budaya ini mendasari empat mahasiswa dari Prodi PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta melakukan penelitian terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut. Keempat mahasiswa tersebut Saryanto, Des Maninda C. Dewi, Ervan Adi Kusuma, dan Lutfiana yang merupakan tim Penelitian Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP).

Tradisi ngguwaki ini biasanya dilakukan pada saat salah satu anggota masyarakat memiliki acara besar seperti pernikahan, acara mitoni atau tujuh bulan kehamilan, dan juga acara khitanan. “Tradisi ini diyakini memperlancar acara yang akan dilaksanakan,” kata Saryanto. “Keyakinan seperti inilah yang mendasari sebagian dari masyarakat untuk melakukan tradisi ngguwaki.” Tradisi ngguwaki berupa sesaji yang disiapkan di sebuah kotak persegi. Kotak persegi atau oleh masyarakat sering disebut dengan ancak itu dilapisi dengan daun pisang yang kemudian diatasnya diletakkan berbagai macam makanan.

Ngguwaki berasal dari bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti membuang. Membuang di sini bukan berarti membuang barang-barang tidak berharga. “Namun, yang dibuang adalah makanan yang dibuat di rumah dan beberapa jajanan pasar,” kata Ervan Adi Kusuma. “Tradisi ngguwaki dilakukan oleh masyarakat desa sebelum melaksanakan suatu hajatan.”

Bentuk fisik yang dibuang berupa makanan yang ditempatkan pada sebuah nampan yang dibuat dari anyaman bambu dan pelepah pisang berjumlah enam buah. Penempatannya yaitu satu buah di rumah empunya hajat, kemudian selebihnya dibuang di tempat yang dianggap sakral, seperti sungai atau kali, perempatan jalan. Setiap guwakan mendapat potongan-potongan ayam yang berbeda. Khusus guwakan untuk kali kulon diberi darah, kepala dan bulu ayam. Namun, pada akhirnya makanan tersebut dimakan oleh anak-anak kecil di dusun yang biasanya menunggu-nunggu hadirnya guwakan ini.

Source http://mengenalbudayajawa.blogspot.co.id/ http://mengenalbudayajawa.blogspot.co.id/2014/08/mengungkap-makna-tradisi-ngguwaki.html#more
Comments
Loading...