Mengenal Upacara Bubur Suro Kab. Sumedang

0 112

Disebut Tradisi bubur Suro karena dibuatnya pada bulan Suro, bulan pertama dalam penanggalan Jawa. Oleh leluhur Rancakalong dahulu, bubur Suro dipadukan dengan tradisi agraris. Sehingga dalam ritual bubur Suro, terdapat ritual-ritual yang berkaitan dengan tradisi agraris. Bubur Suro diperuntukan  memperingati Kanjeng Nabi Nuh, dalam peristiwa banjir besar di kapalnya yang membawa berbagai macam umbi-umbian dan buah-buahan. Selama di atas kapal Nabi Nuh dan para pengikutnya tak sampai merasakan kelaparan. Upacara Bubur Suro diperingati setiap tanggal 9 dan 10 Muharram. 

Pelaksanaan Upacara Bubur Suro

Syarat untuk bahan Bubur Suro terdiri atas 1000 macam buah, namun dalam kenyataannya sulit untuk memenuhi jumlah tersebut. Sehingga untuk melengkapinya ditutup dengan cau sewu yang melambangkan jumlah seribu. Bahan-bahannya meliputi, buah-buahan, umbi-umbian, sayuran, lauk pauk dan bumbu. Persiapan upacara meliputi pembuatan tungku dari batang pisang dan mempersiapkan bahan-bahan yang akan diolah oleh para tamu.

Tahapan-tahapan dalam upacara Mubur Suro adalah: Pertama, upacara menurunkan beras. Kedua, upacara pencucian beras. Tentunya dalam setiap upacara terdiri dari tahapan-tahapan serta persiapan dan perlengkapan upacara.

 

Larangan atau Pamali 

Pantangan yang harus dipatuhi selama upacara berlangsung ditujukan kepada kaum perempuan yaitu tidak diperkenankan memakai perhiasan yang mewah dan berlebihan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin.

Makna Upacara Bubur Suro

Upacara ini memiliki makna positif yang sekarang sudah pudar tergerus arus globalisasi yang semakin menjadi, seperti nilai kebersamaan, gotong royong, sosial dan lain lain. Serta lambang yang terdapat dalam unsur upacara mempunyai makna yang terkandung di dalamnya. Seperti angka lima, tujuh dan sembilan yang digunakan untuk menampung beras, merupakan makna dari lima waktu shalat, hitungan hari dalam seminggu dan sembilan melambangkan jumlah wali sanga, cau sewu melambangkan jumlah seribu, jumlah seribu bermakna agar ada satu rasa.

Walaupun dalam pelaksanaan upacara tersebut terdapat hal-hal yang bertentangan dengan agama, seperti halnya diadakannya sesajen, pembakaran kemenyan sebagai media perantara kepada Yang Maha Kuasa. Namun, itulah tradisi (budaya) masyarakat Sunda yang sudah menjadi kebiasaan yang dianggap sebagai hubungan rohani antara manusia dengan sang pencipta.

Source Mengenal Upacara Bubur Suro Kab. Sumedang Mengenal Upacara Bubur Suro Kab. Sumedang Mengenal Upacara Bubur Suro Kab. Sumedang

Leave A Reply

Your email address will not be published.