Mengenal Tradisi Suro di Gunung Lawu

0 297

Mengenal Tradisi Suro di Gunung Lawu

Gunung Lawu salah satu gunung yang sering menjadi tujuan dan jujugan para pencinta alam atau penggiat alam bebas khususnya di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Gunung yang mempunyai ketinggian 3.265 mdpl ini lebih tepatnya berada pada 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar yang masuk dalam wilayah propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Magetan yang masuk wilayah propinsi Jawa Timur. Ada dua jalur umum pendakian yang bisa dilalui bagi siapapun yang berkeinginan mendaki gunung Lawu yaitu jalur Cemoro Sewu yang berada di Jawa Timur, dan jalur Cemoro Kandang yang masuk wilayah Jawa Tengah, kedua pintu masuk jalur pendakian ke gunung Lawu ini hanya berjarak sekitar 200 meter.

Beberapa saat menjelang malam peringatan 1 Suro semua jalur pendakian baik dari Cemoro Sewu Jawa Timur atau Cemoro Kandang Jawa Tengah akan dipadati banyak orang baik oleh pendaki dan penggiat alam bebas atau dari berbagai kalangan spiritual dan penganut kepercayaan yang akan melakukan kegiatan di Hargo Dalem, atau Hargo Dumiling yang merupakan dua puncak diantara ketiga puncak Lawu, atau yang akan mengadakan ritual di puncak tertinggi gunung Lawu. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa gunung Lawu adalah salah satu tempat yang mempunyai kesakralan dan daya magis yang tinggi sehingga sangat baik dipergunakan sebagai tempat olah kebatinan.

Gunung Lawu juga di percaya sebagai tempat meninggal dan muksonya Raden Brawijaya yang dikenal mempunyai ilmu dan tingkat spiritual yang tinggi sehingga jasad tubuhnya hilang tanpa bekas (mukso ; dalam spritual Jawa). Malam 1 Suro di gunung Lawu akan diperingati berbagai kalangan mulai tua, muda, remaja, bahkan anak-anak semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu agar diberikan keselamatan dan kebarokahan dalam menjalani kehidupan di setahun kedepan meskipun dengan ritual dan cara-cara masing-masing.

Di saat memperingati malam 1 Suro di gunung Lawu setiap orang naik dan menuju satu tujuan yang sama, saling menghormati, saling berbagi, saling betegur sapa, saling membantu untuk bisa berada di tempat yang sama yaitu Puncak Gunung Lawu, sungguh satu kejadian yang mungkin tidak akan sering kita jumpai di perkotaan. Tradisi memperingati malam 1 Suro di gunung Lawu telah berlangsung turun-temurun dan selalu di jaga keberadaannya oleh masyarakat sekitar terutama masyarakat Jawa, ribuan orang akan berada di gunung Lawu pada saat memperingati malam 1 Suro dan kondisi ini akan terus berlangsung sampai tanggal 10 Suro, 15 Suro bahkan sampai penanggalan bulan Suro berakhir, keberkahan selama bulan Suro juga akan diterima oleh masyarakat sekitar yang membuka warung, atau berdagang sayuran serta menyewakan tempatnya untuk beristirahat bagi pengunjung yang berasal dari kota-kota yang jauh dari gunung Lawu.

Keanekaragaman kebudayaan di Indonesia akan semakin memperkuat ciri khas bangsa kita yang tentunya akan membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia, untuk itu sudah menjadi tugas kita semua untuk selalu menjaga kelestarian kebudayaan yang telah ada.

Source Mengenal Tradisi Suro di Gunung Lawu Wisesatravel.com
Comments
Loading...