Tradisi Pertunjukan Wayang Kulit Setelah Lebaran di Delanggu, Klaten

0 71

Tradisi Pertunjukan Wayang Kulit Setelah Lebaran di Delanggu, Klaten 

Untuk memeriahkan hari Lebaran, warga Desa Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menggelar pertunjukan wayang kulit. Cerita yang dipilih setiap tahunnya adalah ‘Baratayuda’.

Setiap masyarakat Indonesia memiliki ciri khas masing-masing untuk memeriahkan hari Lebaran. Ada yang berpesta dengan kembang api, ada yang pergi mengunjungi tempat-tempat wisata, ada pula yang menetap di rumah untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga. Namun, di Desa Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masyarakat biasanya memeriahkan Lebaran dengan mengadakan pertunjukan wayang kulit. Cerita yang dipilih dalam pertunjukan ini adalah Baratayuda atau Perang Barata. Baratayuda sendiri mengisahkan perebutan kekuasan antara keluarga Pandawa dan keluarga Kurawa. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak dalam perang ini. Kedua pihak juga banyak melanggar aturan perang karena memenginginkan kemenangan. Namun di akhir cerita, Pandawa lah yang memenangkan Baratayuda tersebut.

Tradisi ini dilakukan dari tahun ke tahun, biasanya diselenggarakan satu atau dua hari setelah Lebaran tiba selama sehari semalam oleh para seniman. Biasanya Seniman dari luar desa di datangkan untuk mengisi pentas wayang, dari mulai sinden sampai dalangnya datang ke Desa Delanggu

Meskipun pertunjukan wayang kulit ini dilakukan oleh para seniman, warga desa juga ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Di awal acara, lebih dari 10 pemuda dan pemudi desa berkolaborasi dengan para seniman untuk menyairkan sebuah ungkapan syukur tentang hari raya Idul Fitri.

Selain untuk memeriahkan Idul Fitri, acara ini juga sekaligus cara untuk memperkuat tradisi wayang kulit di Jawa Tengah. Dari tahun ke tahun acara pertunjukan wayang ini selalu ada.

Banyak warga desa yang berkumpul di dekat panggung pertunjukan beberapa jam sebelum acara dimulai. Beberapa warga datang lebih awal untuk melihat persiapan acara, tetapi ada pula yang datang untuk memainkan alat musik tradisional seperti bonang dan saron. Semua orang bebas memainkan alat musik tersebut sebelum acara dimulai.

Meskipun hujan turun di sela-sela acara, antusias warga tidak berkurang. Banyak dari mereka yang tetap berada di dekat panggung untuk menyaksikan pertunjukan wayang tersebut hingga rasa kantuk mulai datang.

Banyaknya warga desa yang berkumpul di acara ini juga memberi kesempatan besar untuk para pedagang. Sepanjang jalan menuju panggung acara, sisi kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh para pedagang yang menawarkan banyak hal. Mulai dari makanan, minuman, hingga pedagang mainan anak-anak ada disini.

Source Mengenal tradisi pertunjukan wayang kulit setelah Lebaran di Delanggu, Klaten Rappler

Leave A Reply

Your email address will not be published.