Filosofi Upacara Pitonan Adat Jawa

0 3.016

Filosofui Upacara Pitonan  Adat Jawa

Pitonan merupakan kegiatan pelaksanaan upacara yang terkenal dan merupakan adat istiadat dari pulau Jawa . Pitonan merupakan serangkaian upacara yang di laksanakan bila usia sudah 7 hari atau perayaan 7 hari setelah dilahirkan.Diantara hari Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Dalam hal ini ,diyakini bahwa para tetangga dan kerabat datang ke rumah orang yang sedang berbahagia tersebut. Selain mengucapkan selamat dan doa, para kerabat dan tetangga yang datang  juga membawa sanggan berupa sembako dan tak lupa juga amplop berisi uang dan embel-embel. Embel-embel  merupakan makanan yang terbuat dari tepung beras / ketan lalu di dalamnya ada enten-enten kelapa / gula jawa, yang dibungkus dengan daun pisang lalu di kukus yang berbentuk limas.

 

Upacara yang dilakukan dengan ritual berdoa bersama untuk keselamatan bayi lalu membagi rata ambengan. Ambengan adalah nasi putih yang ditempatkan dalam wadah, wadahnya dapat berupa panci atau besek .

Sejarah dari adanya adat istiadat bernama pitonan ini pada zaman dahulu tepatnya di Kerajaan Kediri diperintah oleh Raja Jayabaya, seseorang wanita yang bernama Niken Satingkeb ,ia menikah dan  lahirlah sembilan orang anak. Namun, nasib malang menimpa mereka, sebabnya dari kesembilan anak tersebut tak ada seorangpun yang berumur panjang,dan hanya sekejap dekat dengan sang Ibu.

Sementara itu pasangan suami istri ini yaitu Sadiyo dan Niken Satingkeb tidak putus asa dan tidak menyerah dalam  hal berusaha dan selalu berdoa agar mempunyai anak lagi yang kelak tidak bernasib malang seperti anak-anak mereka sebelumnya. Segala petuah dan petunjuk serta nasihat  dari siapa saja selalu mereka perhatikan,dan mereka simak dengan penuh hati-hati, tetapi tidak ada juga tanda-tanda bahwa istrinya hamil.Sehingga, pergilah suami istri tersebut menghadap raja untuk mengadukan kepedihan hatinya dan mohon petunjuk sarana dan jalan ,supaya mereka bisa memiliki seorang anak yang tidak bernasib malang seperti anak mereka yang sebelumnya.Mereka sangatlah mendambakan kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga mereka .

Dari cerita suami istri tersebut maka Sang Raja yang arif bijaksana itu terharu mendengar pengaduan Nyai  Niken Satingkeb dan suaminya. Oleh karena itu, maka beliau memberikan petunjuk agar Nyai Satingkeb  pada setiap hari Tumbak (Rabu) dan Budha (Sabtu) harus mandi dengan air suci dengan gayung berupa tempurung kepala yang disebut bathok disertai dengan membaca doa.Adapun doa yang bisa dipanjatkan yaitu berbunyi  “Hong Hyang Hanging Amarta, Martini Sarwa Huma, humaningsun ia wasesaningsun, ingsun pudyo sampurno dadyo manungso.”Dan doa ini harus selalu mereka panjatkan sebagai upaya terkabulnya doa dan keinginan dari mereka untuk mendapatkan seorang anak yang memiliki nasib yang berbeda dari yang sebelumnya.

Sesudah mandi, ia  mengenakan  pakaian yang serba bersih. Selanjutnya, dijatuhkan dua butir kelapa gading melalui jarak antara perut dan pakaian. Kelapa Gading tersebut digambari Sang Hyang Wisnu dan Dewi Sri atau Arjuna dan Sumbadara. Hal tersebut di maksudkan bahwa itu adalah agar jika kelak anaknya lahir, ia mempunyai paras elok atau cantik seperti yang dimaksud dalam gambar itu. Selanjutnya, wanita yang hamil itu harus melilitkan daun tebu wulung pada perutnya yang kemudian dipotong dengan keris.

Segala petuah dan anjuran sang raja itu dijalankannya dengan cermat,hati-hati dan penuh dengan harapan , dan ternyata segala yang mereka minta dikabulkan. Dari kejadian itu semua upacara ini diwariskan turun-temurun dan menjadi tradisi wajib bagi masyarakat Jawa.Oleh sebab itu setiap anak yang baru lahir dan sudah tiba waktunya maka selalu di lakukan yang namanya Pitonan gunanya untuk kebaikan dari sang anak ,serta agar anak tersebut selamat dan selalu mendapatkan keberkahan di dalam hidupnya.

 

Source Mengenal Serangkaian Upacara Pitonan Adat Jawa kompasiana
Comments
Loading...