Mengenal Seni Reak Sumedang

0 65

Seni Reak adalah kesenian yang dapat dijumpai di beberapa daerah tatar Sunda seperti Bandung, Karawang, Subang, Sumedang, dan sekitarnya. Biasanya, seni ini dipentaskan pada sebuah pesta yang mengundang keramaian seperti khitanan, syukuran panen, pernikahan, sampai 17 Agustusan. Dalam prakteknya, biasa dimainkan oleh mereka yang sudah sepuh atau dewasa.

Penggunaan kata “reak” dalam seni ini juga memunculkan banyak pendapat. Sebagian mengatakan “reak” berasal dari kata “reog”, mirip dengan nama kesenian dari Jawa Timur, terutama Reog Ponorogo, keduanya pun sama menggunakan topeng sebagai salah satu media seninya. Sebagian lagi menyatakan bahwa “reak” berasal dari kata “leak”, yakni salah satu simbol kekuatan jahat dalam tradisi Hindu-Bali, yang menyimbolkan Batara Kala atau ogoh-ogoh, ini pun sama, menggunakan topeng sebagai media seninya. Adapun Reak maupun Reog, menurut sebagian pandangan berasal dari kata Arab “riyyuq” yang artinya “bagus/sempurna di akhir” atau khusnul khatimah.

Ada pula yang menyebutkan, hirup-pikuk serta sorak-sorai dari pemain dan penonton saat digelarnya seni inilah yang menjadikannya dinamakan Seni Reak, diambil dari kata hirup-pikuk, atau sorak-sorai gemuruh tetabuhan dalam bahasa Sunda yaitu : “susurakan atau eak-eakan”, sehingga jadilah kesenian yang hiruk-pikuk dan bergemuruh karena soraksorai ini menjadi “Seni Reak”.

Di tanah Pasundan kesenian ini relatif mudah dijumpai, pegiat seninya ada hampir di setiap Kabupaten. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa seni tradisional yang telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Jawa Barat ini awalnya berasal dari Sumedang, tepatnya dari Kecamatan Rancakalong.

Seni Reak, sebuah seni yang mengawinkan seni reog, angklung, kendang pencak, seni tari, dan seni topeng ini berasal dari Rancakalong, Sumedang. Adapun sekarang seni reak bisa ada di berbagai daerah, adalah dulunya dibawa oleh mereka warga Rancakalong yang mengembara, dan menetap di daerah pengembaraan mereka.

Dulunya, konon Seni Reak ini diciptakan untuk menarik perhatian anak-anak yang sudah masuk usia khitan. Diharapkan dengan kemeriahan pementasan seni ini, anak-anak yang takut dikhitan/sunat bersedia melakoni kewajiban yang harus dilalui seorang lelaki menuju usia balighnya itu.

Dengan iring-iringan bunyi dari seperangkat instrument etnik Sunda, itu menciptakan kemeriahan yang diharapkan bisa menyingkirkan rasa takut. Digelar di tempat terbuka, dan diarak berkeliling menyusuri jalan-jalan desa dengan berbagai tabuhannya (mirip-mirip dengan Kesenian Kuda Renggong).

Sebagian menyebutkan Seni Reak ini peninggalan dari masa kerajaan Pajajaran, ada pula yang menyebut kesenian ini mulai muncul pada masa kerajaan Sumedang Larang. Diperkuat argumen bahwa kesenian Sunda ini
seperti kental sekali mendapat pengaruh budaya Pajang dan Mataram, pada masa Sumedang Larang lah daerah Sunda begitu intens berinteraksi dengan kedua daerah itu, baik dalam hal politik maupun budaya. Lalu, ada pula yang menyebutkan bahwa kesenian ini muncul pada masa penjajahan Belanda, sebagai bentuk kritik masyarakat para priyayi yang pro pada pemerintahan kolonial Belanda.

Banyak yang mengamini folklore atau cerita rakyat bahwa Seni Reak ini mulai ada pada masa Prabu Kiansantang. Pada cerita rakyat itu disebutkan, pada abad ke 12 putera dari Prabu Siliwangi itu bermaksud untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat.

Source Seni Reak Belasan Reak Sumedang Beraksi di Festival Seni Budaya Sunda Seni Reak

Leave A Reply

Your email address will not be published.