Memayu Buyut Trusmi

0 77

Memayu Buyut Trusmi

Arak – arakan atau biasa orang menyebutnya dengan Memayu Buyut Trusmi adalah suatu acaraatau kegiatan yang diadakan tiap tahun sekali. Kegitana ini menampilkan beraneka ragam pertunjukan dan kreativitas warga Cirebon. Biasanya arak-arakan diadakan pada hari minggu subuh ( 1 hari sebelum penggantian welit makam Ki Buyut Trusmi) dan berakhir pada pukul 9 atau 10 pagi. Rute arak – arakan sendiri biasanya dimulai dari desa Trusmi Wetan – Trusmi Kulon – jalan Raya Plered – Panembahan – kembali ke Trusmi.

Pertunjukan pertama dalam tradisi ini adalah balapan atau pacuan kuda. Atraksi ini dimulai setelah subuh. Pacuan kuda sempat menimbulkan pro dan kontra, pasalnya tahun 2017 lalu, seekor kuda beserta jokinya menabrak seorang ibu yang hendak menyebrang dalam kecepatan yang lumayan cepat. Sontak kuda langsung terjatuh dan mengalami luka yang cukup parah hingga pemiliknya pun memutuskan untuk menyembelih kuda langsung pada saat itu.

Joki dan ibu pun turut menjadi korban dan segera ditangani oleh petugas medis. Pertunjukan kedua setelah pacuan kuda adalah jangkungan. Jangkungan merupakan suatu atraksi yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang yang memakai galah atau orang biasa menyebutnya dengan egrang. Ketinggian egrang untuk setiap orang  berbeda-beda ada yang 1 meter, bahkan ada yang sampai 3 meter. Biasanya orang-orang yang melakukan atraksi ini adalah pria. mereka melakukan atraksi lompat, mendekam dan sebagainya.

setelah pertunjukan jangkungan selesai, dilanjutkan dengan pertunjukan meriam sederhana dari bambu, orang – orang biasanya menutup telinga ketika pertunjukan sudah berlangsung. Selanjutnya ada kesenian Tarling ( gitar lan suling ) yang merupakan keseninan Cirebon. Yang ditunggu-tunggu warga adalah pembagian nasi, es teh, sayur-mayur dan makanan ringan secara gratis.

Tradisi ini pun bisa dibilang unik,karena petugas keamanan membaluri tubuhnya dengan oli sehingga tubuh mereka berwarna hitam, lalu mereka berjalan mendekat ke arah penonton. Tujuannya adalah agar penonton arak-arakan menjaga jarak serta tidak terlalu dekat dengan pawai. Terakhir ada pawai aneka replika hewan, replika ini dibuat warga Cirebon secara handmade. Untuk membuat replika tersebut bahan utama yang dibutuhkan adalah bambu. Replika yang dibuatr diantaranya kerbau, naga, harimau, burok, ondel-ondel, burung garuda. Alhamdulillah sampai saat ini, tradisi memayu buyut trusmi masih rutin diadakan,  dan InsyaAllah akan tetap dilestarikan oleh warga Cirebon.

Source https://budaya-indonesia.org/Memayu-Buyut-Trusmi/ https://budaya-indonesia.org/Memayu-Buyut-Trusmi/
Comments
Loading...