Memaknai Filosofi Batik Malang Kucecwara

0 89

Memaknai Filosofi Batik Malang Kucecwara

Satu lagi yang khas dari Malang. Itulah batik Malangan. Sejarah batik ini belum diketahui secara pasti. Namun, salah satu yang bisa menjadi patokan adalah pada upacara tradisional abad XIX. Disana, para pria dan wanitanya menggunakan medhang koro, yaitu hiasan kepala, udeng, sewek dengan motif batik sidomukti, salah satu motif batik Malangan.

Seperti batik-batik yang ada di penjuru nusantara lainnya, batik Malangan juga memiliki ciri tersendiri. Tepatnya ada tiga ciri, yaitu yang pertama terletak pada motif dasaran atau latar. Dasarannya berupa motif Candi Badut. Dimana Candi Badut merupakan peninggalan kerajaan Kanjuruhan pada 760M.

Yang kedua ada motif isen-isen. Motif ini terdiri dari gambar Tugu Malang sebagai motif utama yang disampingnya terdapat rambut singa berwarna putih sebagai lambang kabupaten Malang. Terakhir adalah motif hias batik ini sendiri. Di bagian ini terdapat bagian boket (hiasan pinggiran kain batik) untuk tumpal (isen-isen pada pinggiran kain) yang berisi tiga buah sulur bunga teratai yang berpola seperti rantai.

Kini motif dari batik malangan sudah beragam. Beberapa darinya yaitu teratai singo, celaket, malang kucecwara, kembang pring, dan bunga teratai. Macam-macam motif tersebut dipilih dengan kekhasan budaya dan simbol yang ada di Malang itu sendiri. Misal pada motif batik malang kucecwara yang komposisi motifnya adalah mahkota, tugu Malang, rumbai singa, arca, bunga teratai, sulur-sulur juga isen-isen berbentuk belah ketupat.

Filosofi dari motif-motif yang ada tersebut yakni yang pertama adalah mahkota. Mahkota disini menggambarkan bentuk mahkota dari raja Gajayana yang pernah membawa kerajaan Gajayana menuju puncak kejayaannya. Harapannya untuk sekarang adalah batik malang ini juga mampu meraih puncak kejayaan dalam perjalanan hidupnya layaknya puncak kejayaan raja Gajayana dahulu.

Lalu ada tugu Malang yang melambangkan kekuasaan wilayah. Disini berarti menggambarkan wujud keperkasaan dan ketegaran. Ketiga ada rumbai singa yang menyimbolkan budaya masyarakat yang berjiwa pemberani dengan semangat membara dan pantang menyerah seperti singo edan.

Selanjutnya bunga teratai yang merupakan perlambang dari suatu keindahan alam yang penuh kesuburan. Berikutnya yakni arca. Arca yang tergambar yakni arca candi Singosari yang merupakan salah satu aset budaya Malang serta mengingatkan akan kejayaannya.

Yang keenam adalah sulur-sulur yang memberi arti sebagai perwujudan suatu kehidupan yang selalu berkembang tapi tak abadi dan senantiasa mengingatkan bahwa manusia pasti akan mati. Untuk sulur-sulur yang bersambung mengartikan bahwa akan selalu ada generasi penerus yang akan melanjutkan tujuan kehidupan. Juga supaya manusia selalu introspeksi diri dan menerima apa yang sudah diberikan.

Terakhir ada isen-isen belah ketupat yang dimana itu adalah gambaran dari relief candi Badut. Maknanya adalah pengakuan bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna.

Dari filosofi-filosofi tersebut, diharapkan adanya suatu keluhuran dari pemakainya untuk selalu menjadi pemberani, menghargai kehidupan, bertanggung jawab dengan penuh rasa hormat, dan mencintai lingkungan sekitarnya.

Source https://ngalam.c https://ngalam.co/2016/08/19/memaknai-filosofi-batik-malang-kucecwara/
Comments
Loading...