“Masres” Sandiwara Cirebon Yang Berusaha Tak Terperosok

0 56
Sejarah 

Sandiwara Cirebon, dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dengan sebutan Masres pada tahun 1940-an, ketika Cirebon diduduki oleh kolonialis Jepang. Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh para tokoh sandiwara Cirebon saat ini, bahwa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, di daerah Cirebon muncul kesenian yang digemari oleh masyarakat yaitu reog Cirebonan yang terkenal dengan nama Reog Sepat. Pertunjukan Reog tersebut terdiri dari dua bagian. Pertama, berupa atraksi bodoran/lawakan; dan kedua, berupa drama yang mengambil cerita dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut. Pada saat bersamaan, di daerah Jamblang Klangenan muncul pula sebuah kesenian yang lazim disebut Toneel dengan nama Cahya Widodo. Kesenian ini tiap hari bahkan berbulan-bulan melakukan narayuda (ngamen).

Pada tahun 1946 di Desa Kebarepan Kecamatan Plumbon Cirebon berdiri pula kesenian sejenis dengan nama Langendriyo yang diprakarsai oleh Suwandi dan Mursid, desa Barepan. Antara Langendriyo dengan Jeblosan ini hampir sama seperti Toneel Cahya Widodo, namun ada perbedaan pada bahasa penyampaiannya. Pada Langendriyo penyampaian cerita dengan memakai bahasa Jawa dan pada Jeblosan memakai bahasa campuran antara bahasa Jawa Cirebonan dengan bahasa Jawa.

Pada tahun 1949 bentuk Langgen Jeblos mulai ditingkatkan sarananya dengan mempergunakan panggung. Nama Jeblos diganti dengan Langen Perbeta yang berarti Lasykar (bahasa sandi), Persatuan Bekas Tentara. Dan pada tahun lima puluhan namanya diganti lagi dengan Sari Sasmita.yang berfungsi sebagai media penerangan. Kejayaan Sari Sasmita mulai nyata, karena dari malam ke malam di setiap musim hajatan, kesenian tersebut tak pernah istirahat memenuhi undangan masyarakat penggemarnya.

Pada tahun 1970-an sandiwara Cirebon mengalami masa kejayaan, karena banyak sekali masyarakat yang menanggap kesenian ini. Maka tidak heran jika di daerah Cirebon saat ini banyak bermunculan kelompok/grup­grup sandiwara di setiap desa dan kecamatan. Sandiwara Cirebon hingga kini masih hidup di masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Kehidupan kesenian ini tidak terlepas dari dukungan para penyangganya yang masih membutuhkan seni pertunjukan tersebut sebagai pengiring dalam upacara-upacara inisiasi, katarsis dan simpatetik magis (perkawinan, khitanan, kaul dan lain-lain).

Alat Musik

Alat musik yang dipakai dalam sandiwara Cirebon memakai gamelan pelog, dimana beberapa jenis waditranya meliputi: bonang, kemyang, saron, titil, penerus, gong besar dan kecil, kendang, dogdog dan ketipung, tutukan, kenong (jenglong), kecrek, seruling, dan gambang. Dalam perkembangannya saat ini, unsur musik ditambahkan beberapa peralatan musik modern diantaranya key board dan gitar electric. Sementara perlengkapan lain dalam mengusung pertunjukan sandiwara Cirebon meliputi property, layar dan dekor.

Pertunjukan

Dalam pertunjukan sandiwara Cirebon saat ini, banyak ditampilkan cerita yang diambil dari babad Cirebon, seperti lakon Nyi Mas Gandasari, Pangeran Walangsungsang, Ki Gede Trusmi, Tandange Ki Bagus Rangin, Pusaka Golok Cabang, dan lain-lain. Sekalipun demikian, sandiwara Cirebon kadangkala menampilkan cerita dongeng atau legenda masyarakat Jawa umumnya, terutama pada pertunjukan berlangsung siang hari. Namun pada malam hari, cerita yang ditampilkan kebanyakan diambil dari babad Cirebon hingga tuntas menjelang pagi. Oleh karena sifatnya yang egaliter, sandiwara Cirebon banyak mempertunjukkan pula kemasan-kemasan musik dangdut Cirebonan, atau kadang-kadang tayuban sebagai selingan dalam suatu lakon pertunjukan. Pertunjukan sandiwara Cirebon pada malam hari biasanya dimulai pada pukul 20.00 dan selesai pada pukul 03.30 dinihari. Struktur pertunjukan sandiwara Cirebon adalah sebagai berikut: musik pembuka (tatalu); adegan gimmick (surpraise dengan trik panggung, berupa kembang api); tarian pembuka; pertunjukan lakon sandiwara; penutup, dengan musik dan epilog pimpinan sandiwara.

Source "Masres" Sandiwara Cirebon Yang Berusaha Tak Terperosok "Masres" Sandiwara Cirebon Yang Berusaha Tak Terperosok "Masres" Sandiwara Cirebon Yang Berusaha Tak Terperosok

Leave A Reply

Your email address will not be published.