Makna simbolis Tradisi Kematian Bagi Masyarakat Jawa

0 404

Makna simbolis Tradisi Kematian Bagi Masyarakat Jawa

Islam Kejawen biasanya menganut sebuah tradisi Tahlilan,Sedangkan bagi kaum santri, Slametan ialah upacara yang membaca sebuah doa secara bersama-sama dengan seorang pemimpin yang kemudian di teruskan dengan makan-makan bersama sekedarnya dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah Yang maha Kuasa. Tahlil secara bahasa berasal dari sighat mashdar dari kata “hallala” yang berarti membaca kalimat la ilaha illallah. Tahlilan adalah mengunakan atau memakai bacaan tahlil untuk tujuan tertentu. Sekarang tahlilan digunakan sebagai istilah bagi perkumpulan orang untuk melakukan doa bersama bagi orang yang sudah meninggal.

Selametan tidak hanya pada hari pertama saja,tetapi juga malam ke-2 (mendua hari), ke-3 (meniga hari), ke-7 (memitung hari), ke-25 (mayalawi), ke-40 (mematang puluh),  yang disebut sebagai dan ke-100 hari (manyaratus hari), dan 1000 hari (nyewu) terhitung dari meninggalnya seseorang. Dalam menentukan Tahlilan ada teknik-teknik tersendiri yang di gunakan oleh orang Jawa.

Untuk menentukan hari itu, mereka menggunakan perhitungan hari dan pasaran dengan perhitungan sebagai berikut :

  1. Ngesur tanah dengan rumus jisarji, maksudnya hari ke satu dan pasaran juga ke satu.
  2. Nelung dina dengan rumuslusaru, yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga
  3.  Menujuh hari (mitung dina) dengan rumus tusaro, yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua
  4. 40 hari (matangpuluh dina) dengan rumus masarama, yaitu hari ke lima dan pasaran ke lima
  5. 100 hari (nyatus dina) dengan rumus rosarama, yaitu hari ke dua pasaran ke lima
  6. Peringatan tahun pertama (mendhak pisan) dengan rumus patsarpat yaitu hari ke empat dan pasaran ke empat
  7. Perigatan seribu hari (nyewu) dengan rumus nemasarma yaitu hari ke enam dan pasaran ke lima.

Ritual yang di gunakan untuk Selametan orang Jawa ialah :

Pertama, Upacara ngesur tanah (geblag) Upacara ngesur tanah merupakan upacara yang dilaksanakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat).

Kajian dalam sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag semula yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga. Sesajen upacara ngesur tanah: bermakna memindahkan roh jenazah dari alam fana ke alam baka. Kematian tersebut didoakan oleh para ahli waris dengan berbagai sesajen yang tujuannya mengharap keselamatan bagi orang yang meninggal dan mendapat ampunan dari Tuhan.

Kedua, upacara tigang dinten (tiga hari). Upacara ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan untuk memperingati tiga hari meninggalnya seseorang.

 

Source Makna simbolis Tradisi Kematian Bagi Masyarakat Jawa v3maximillion
Comments
Loading...