“Makna Simbolik Mitos Dewi Sri Dalam Masyarakat Jawa”

0 147

DEWI SRI DALAM PEMUJAAN MASYARAKAT JAWA

Di Indonesia, pemujaan terhadap kekuatan yang menimbulkan atau menguasai kesuburan sudah berlangsung sebelum datangnya pengaruh Hindu. Pemujaan tersebut berpangkal dari kepercayaan terhadap roh atau arwah nenek moyang. Karena arwah nenek moyang dianggap mempunyai banyak pengalaman, maka di dalam kehidupannya arwah tersebut dilingkupi oleh kekuatan-kekuatan gaib. Dengan kekuatan gaib itulah arwah nenek moyang dapat melakukan segala perbuatan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Itulah mengapa manusia memuja arwah nenek moyang. Pemujaan ini dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan kesejahteraan hidup, kesuburan dan kebahagiaan.

Pemujaan terhadap kesuburan yang akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam kebudayaan agraris bermula dari ketidaktahuan tentang proses yang terjadi di alam ini. Manusia merasa heran dan takjub menyaksikan kelahiran, sedang mereka percaya bahwa apa yang ada di dunia ini semua dilahirkan. Cara berpikir yang masih sangat sederhana membawa mereka ke tokoh wanita, karena wanitalah yang melahirkan manusia ke dunia ini. Dari pandangan inilah muncul tokoh wanita yang dipuja sebagai dewi ibu. Tokoh dewi ini dalam masyarakat agraris digambarkan sebagai tanah, tanahlah yang melahirkan segala tanaman yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya di dunia. Sebagai dewi kesuburan, ia dianggap sebagai pelindung, pemelihara sumber hidup manusia dan segala yang hidup di dunia. Oleh karena itu ia dianggap sebagai pencipta (yang melahirkan), maka kekuasaan untuk meminta kembali apa yang telah dilahirkan ada pada dirinya. Hal ini berarti dewi kesuburan berhak atas kematian semua makhluk dan penguasa dunia bawah.

Di dalam bagian kitab Reg Weda Sri Sukta, disebutkan bahwa dewi Sri-Laksmi selalu berhubungan dengan bunga padma. Digambarkan Dewi Sri Laksmi adalah dewi yang mempunyai bunga padma (padmini), berdiri di atas bunga padma (padmeshita), mempunyai warna bunga padma (padma warna) dan sebagai tempat tumbuhnya bunga padma (padma sambhawa). Dia juga digambarkan mempunyai mata yang bersinar seperti bunga padma (padmaksi). Bunga padma adalah simbol air yang memberikan kesuburan. Dalam hal ini bunga padma dapat dihubungkan dengan tempat bunga atau kendi dan binatang gajah. Dalam mitologi India disebutkan bahwa pada waktu alam semesta ini akan dicipta, mula-mula muncul bunga padma dari emas berdaun dan berbunga seribu yang keluar dari dalam air kosmis. Bunga padma ini dianggap sebagai aspek tertinggi bumi, sedangkan air kosmis mempunyai sifat keibuan, aspek pencipta yang absolut. Persatuan keduanya menghasilkan penciptaan. Hubungan antara air, bunga padma dan binatang gajah terdapat di dalam naskah kuno India. Bukti ikonografis yang menunjukkan peran dewi sri sebagai dewi padi di Jawa, dapat diketahui dari arca yang sekarang di simpan di Museum Sonobudoyo. Arca-arca tersebut digambarkan memegang setangkai padi yang mungkin dapat menunjukkan peranan dewi sri sebagai dewi padi.

Makna Simbolis

Tradisi pemujaan kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi merupakan upacara simbolis mempersembahkan sesaji kepada Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. Tujuannya adalah agar hasil panen baik dan melimpah. Juga diharapkan agar sawah mereka terhindar dari segala malapetaka dan gangguan roh-roh jahat dan bencana. Sesaji dilakukan sebagai perujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panennya, dengan harapan akan kembali kepada masyarakat berupa kemakmuran dan kesejahteraan hidup. Tradisi pemujaan kepada Dewi Sri ini merupakan salah satu warisan budaya lokal yang perlu dilestarikan. Pelestarian tradisi memang perlu dilakukan, sehingga masyarakat akan tetap dapat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui kepercayaan yang diyakininya, yaitu kepercayaan asli Indonesia.

Source "Makna Simbolik Mitos Dewi Sri Dalam Masyarakat Jawa" "Makna Simbolik Mitos Dewi Sri Dalam Masyarakat Jawa"
Comments
Loading...