Makna Selikuran Ramadhan Dalam Adat Jawa

0 496

Makna Selikuran Ramadhan Dalam Adat Jawa

Malam selikuran adalah salah satu tradisi orang jawa. Biasanya orang jawa melaksanakan atau memperingati tradisi tersebut pada 21 Ramadhan atau lebih dikenal dengan sebutan malam Lailatul Qadar. Biasanya bagi masyarakat Jawa banyak yang berkumpul di Masjid.

Selikuran (21 Ramadhan) menurut masyarakat Jawa memiliki nilai/arti yang spesial. Tradisi malam selikuran (21 Ramadhan) adalah tradisi budaya sekaligus religius (agama) yang syarat dengan makna. Dari berbagai hal tersebut banyak nilai postitif yang dapat di ambil dan juga dapat menggali berbagai tradisi yang ada di Jawa.

Makna Malam Selikuran

Sunan Paku Buwono IV sebagai pewaris dinasti.Mataram di Keraton Surakarta Hadiningrat, dalam Serat Wulangreh, ia menulis  sebagai berikut :

Jroning Quran nggoning rasa jati
Nanging pilih wong kang uninga,
Anjaba lawan tuduhe,
Nora kena binawar,
Ing satemah nora pinanggih,
Mundhak katalanjukan,
Temah sasar susur,
Yen sirdayun waskitha,
Kasampurnaning badanira puniki,
Sira anggegurua.

Terjemahan bebas petuah yang ditulis dalam tembang dhandhanggula tersebut, kurang lebih “Alquran adalah tempat rasa sejati. Tetapi tidak setiap orang mengetahuinya, kecuali (mereka) yang tekun dan patuh. Karena jika demikian (dia) tidak akan menemui sejatinya ajaran. Jangan pula sembarangan yang bisa mengakibatkan kesasar. Jika engkau waspada, akan mendapatkan kesempurnaan dan karenanya engkau harus berguru”.

Sehingga pada malam itu bagi Masyarakat Jawa sangat penting dan bermakna.Kalangan keraton dan seluruh masyarakat adat Jawa mengharapkan limpahan berkah dan anugerah,Para masyarakat berbondong-bondong untuk mendapatkan  malam yang baik tersebut.

Source Makna Selikuran Ramadhan Dalam Adat Jawa gedangsari.com
Comments
Loading...