Makna Sejarah Bedug Dalam Kehidupan Jawa

0 192
Salah satu yang menjadi ciri Masjid di Indonesia khususnya di jawa adalah adanya bedug. bedug merupakan sebuah alat tabuh menyerupai gendang yang terbuat dari kayu dan kulit sapi/kebau dengan ukuran diameter rata rata 120cm  atau lebih  yang digunakan sebagai penanda bahwa akan memasuki waktu adzan.
Biasanya bedug dipukul sesaat sebelum adzan dikumandangkan. selain dipakai untuk menandai momen momen keagamaan misalkan pada saat hari raya Idul Adha maupun Hari raya Idul Fitri. Benda yang identik dengan masjid jaman dulu ini biasanya diletakkan di serambi (teras) masjid, ada juga yang dibuatkan “rumah” khusus. hingga kini keberadaan bedug masih tetap ada disebagaian masjid khususnya dilingkungan masyarakat NU.
Sejarah
Masuknya budaya bedug di Indonesia tak lepas dari peran Cheng Ho. Cheng Ho merupakan seorang Muslim asal China yang pernah datang ke Indonesia sebagai Seorang utusan dari maharaja Ming pada abad ke 15. selama tinggal di Indonesia, Khususnya di wilayah Jawa, Cheng ho sering memperlihatkan tabuhan bedug sebagai tanda baris-berbaris ke tentara yang mengiringinya.
Berdasarkan sejarah, ketika Cheng Ho hendak pergi dan memberikan hadiah kepada raja semarang kala itu, sang  mengatakan bahwa dirinya tertarik dan ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah awal mula budaya nabuh bedug menjadi bagian dari masjid masjid di jawa seperti halnya bedug di kuil-kuil di negara China maupaun Korea dan Jepang, sebagai alat komunikasi ritual keagamaan lambat laun budaya bedug mulai diadopsi oleh masyarakat Jawa hingga sekarang ini.
Fungsi Bedug
Pada abad ke 15 dan 16, dimana pada masa itu adalah masa penyebaran Islam yang dilakukan oleh walisongo, Keberadaan bedug yang ditempatkan di masjid-masjid memiliki Fungsinya sebagai berikut:
1. Alat komunikasi.
Sebelum pengeras suara sebanyak sekarang ini, salah satu fungsi dari bedug adalah untuk menandai waktu masuk shalat lima waktu. Biasanya bedug ditabuh beberapa kali untuk mengajak umat Islam melaksanakan shakat secara berjamaah. Selain itu, di masyarakat jaman dulu, ketika ada kejadian alam, musibah kebakaran, atau tindakan kriminal (pembunuhan) bedug atau kentongan biasanya juga ditabuh.
2. Penanda Momen momen Agama
Saat memasuki awal puasa ramadhan, biasanya anak anak kecil berkumpul dimasjid untuk ramai ramai memukul bedug menyambut datangnya bukan suci ramadhan. kegiatan ini hingga sekarang masih berlaku khususnya diwilayah pedesaan meskipun sudah mulai jarang dilakukan. Di akhir puasa atau awal hari raya idul adha maupaun idul fitri, bedug juga biasanay di tabuh sebagai tanda suka cita menyambut datangnya hari raya. Kebiasaan seperti ini memang masih umum berlaku khususnya di lingkungan masyarakat NU (nahdatul ulama).
3. Budaya dan seni
Meskipun tidak semua umat Muslim di Indonesia menerima kehadiran bedug di masjid-masjid karena dianggap bid’ah ( karena tidak ada pada zaman nabi Muhammad saw ). Namun budaya menabuh bedug begitu kental dengan kebiasaan warga Nahdlatul Ulama (NU).
Penggunaan bedug dimaksudkan untuk menjaga seni dan budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Selain itu pada masa penyebaran Islam dinusantara oleh walisongo, penggunaan bedug juga dipakai sebagai media ayiar agama. Peran serta fungsi bedug seperti yang telah wartajowo tulis diatas memang mulai hilang tergantikan dengan pengeras suara, namun keberadaannya di beberapa masjid masih menjadi salah satu daya tarik khususnya bagi anak anak agar mau datang ke masjid.
Source http://wartajowo.blogspot.com http://wartajowo.blogspot.com/2018/09/sejarah-dan-makna-bedug-masjid-dalam.html
Comments
Loading...