Makna Religius dalam Lagu Sluku-Sluku Batok

0 707

Sepenggal lirik Sluku-sluku Bathok :

“Sluku-Sluku Bathok // Bathoke ela-elo // Si Rama menyang Solo // Oleh-olehe payung mutho // Pak jenthit lolo lo bah // Wong mati ora obah // Yen obah medeni bocah // Yen urip golekko dhuwit

Lagu tradisional Jawa sangat erat kaitannya dengan masalah Ketuhanan. Tembang dolanan yang menggambarkan mengenai Ketuhanan yang sangat populer berjudul “Sluku-Sluku Bathok”

Menurut Endraswara (1999), tembang dolanan di atas dapat ditelusuri dari segi sufisme Jawa, yaitu filsafat Jawa yang sudah terpengaruh oleh ajaran Islam sehingga berbau mistik. Larik yang berbunyi “sluku-sluku bathok” berkaitan dengan “ghlusuk-ghlusuk batnaka” yang berarti ”bersihkanlah batinmu” makna dari larik itu adalah berupa perintah agar mencegah hawa nafsu terutama yang berkaitan dengan isi perut karena perut merupakan gambaran dari mikrokosmos. Didalam perut dapat ditemukan jagad cilik yang menggambarkan alam semesta.

Hal ini berarti kita membersihkan batin (mengheningkan cipta) disertai dengan falsafah eling“sadar”. Sehingga manusia akan selalu menyadari sampai di lubuk hatinya bahwa tidak ada Pangeran “Tuhan” kecuali Allah ta’ala. Kalimat tauhid tersebut dalam agama islam sering disebut Kalimat Syahadat. Di dalam puisi Jawa baris “si rama menyang sala” “siruma yasluka” yang dapat berarti dari kata salaka “berjalanlah”di jalan yang dijalani oleh Nabi SAW. Dalam mengimani sebuah keyakinan tidak cukup hanya disertai dengan sikap eling“sadar”saja. Karena masih perlu digenapi dengan larik “oleh-olehe payung motha” “la ilaha ilallah hayun wal mauta”. Artinya, selalu lafalkanlah “la ilaha ilallah” sejak dini sampai ke penghujung kehidupan agar mendapatkan kematian yang khusnul khotimah. Sampai pada tataran tersebut, manusia belum dapat mencapaikesempurnaan kalau belum dapat melakukan seperti pada larik “mak jenthit lo lo bah” “mandzolik moqorobah”. Kata mandzolik berasal dari kata mandzalika yang berarti berhati-hatilah dengan kesalahanmu. Frasa mak jenthit berasal dari perubahan kata mukhasib yang berarti “berhitunglah dari segala kesalahanmu”.

Menurut Endraswara (1999) kata moqorobah dapat diartikan “intropeksi, mawas diri”, atau “meneliti segala kesalahan yang pernah diperbuat”. dengan demikian dari larik geguritan tersebut dapat disimpulkan suatu pemahaman bahwa manusia hidup harus selalu dapat mengoreksi diri dan melakukan kesalahan yang diperbuatnya. Atau dengan kata lain adalah bertaubat Orang yang mau mengakui kesalahannya dapat disebut sebagai satriya pinandhita “satria yang berwatak pendeta atau orang yang mempunyai kelebihan”. orang yang sudah mencapai tataran seperti itu dapat disebut sebagai manusia yang selalu dapat menjaga perdamaian dunia dan selalu dapat menjaga perdamaian batin, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap alam semesta sehingga ia telah mampu memayu hayuning bawana “menciptakan ketentraman dunia” Orang yang berwatak satriya pinandhita selalu mendasari dirinya dengan sikap religius.

Hal ini diungkapkan dalam larik “wong mati ora obah” “hayun wal mauta inalillah”. Artinya, mati dan hidup adalah milih Allah. Dalam falsafah orang Jawa, manusia harus sudah mengetahui sangkan paraning dumadi“asal dan tujuan orang hidup”. Hal ini tergambar dalam larik “nek mati ora obah” “mahabatan mahrojuhu taubatan” yang berarti hendaknya berbakti kepada Yang Membuat Hidup agar dicintai. Agar dikasihi Allah, manusia harus “mahrojuhu” atau mencari jalan terang melalui jalan pertobatan. Dengan bertobat, manusia diharapkan dapat mendekat pada pangeran “Tuhan”. Disamping itu, ia harus mengetahui tujuan hidup manusia melalui manunggaling kawula lawan Gusti “bersatunya manusia dengan Tuhan”. Untuk mencapai tataran itu, manusia harus selalu pasrah sumarah “pasrah dengan segenap hati” terhadap kodratnya. Agar dapat pasrah dengan segenap hati, manusia harus memahami arti kehidupan seperti yang tergambar dalam larik nèk urip golèko dhuwit “yasrul innal khalagnal insana min maindhofig”. kata “yasrifu” bermakna bahwa hidup manusia dapat mencapai kemuliaan dengan cara selalu mengingat perintah Tuhan. Oleh karena itu, manusia tidak diperkenankan sombong.

Didalam tembang dolanan tersebut di atas mengandung filsafat luhur orang Jawa. Orang jawa menyadari sikap pasrah dengan bentuk pasrah sumarah dan pertobatan (mau menyadari kesalahannya). Dengan sikap seperti itu, orang Jawa diminta dapat memayu hayuning bawana “menjaga ketentraman dunia” sehingga kelak dapat bersatu dengan Tuhan atau manunggaling kawula lawan Gusti. Dengan demikian, ia dapat disebut manusia mulia atau manusia sejati.

 

Source Makna Religius dalam Lagu Sluku-Sluku Batok Blognya Si Rury
Comments
Loading...