Makna Gunungan Sekaten, Tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Keraton Surakarta

0 421

Makna Gunungan Sekaten, Tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Keraton Surakarta

Dalam upacara Sekaten terdapat gunungan yang merupakan simbol atau lambang yang bermakna positif. Berbagai jenis makanan yang disiapkan dalam gunungan tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan harapan yang baik bagi kehidupan ekonomi masyarakat. 

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap makanan atau sesaji yang terdapat dalam gunungan dalam Tradisi Sekaten tersebut, sebagai berikut: 

Gunungan kakung, Gunungan selain bermakna kesuburan juga mempunyai arti sifat baik, sedangkan gunungan putri melambangkan sifat buruk. 

Bendera merah putih, ditempatkan pada ujung gunungan, berjumlah lima buah sebagai lambang dari sebuah negara atau kerajaan. Warna merah bermakna semangat atau kebenaran, sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah putih menunjukkan istilah pada kerajaan Majapahit yaitu istilah gula klapa yang melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian. 

Cakra, merupakan puncak dari pangkal berdirinya gunungan yang mempunyai makna senjata atau pusaka milik dari Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam menegakkan keadilan. 

Wapen, merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Adapun wapen dalam gunungan bermakna petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja yang bertahta. 

Kampuh, merupakan kain berwarna merah putih yang menutupi jodhang (tempat makanan) yang bermakna kesusilaan. kampuh dibuat sebagus mungkin yang membuktikan kepribadian, pepatah Jawa mengatakan ajining salira saka busana yang berarti dihormatinya seseorang karena pakaiannya. 

Entho-entho, merupakan makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng. Hal ini bermakna keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia. 

Telur asin, melambangkan amal. Adapun makna lain bahwa terbagi dua bagian, bagian kuning melambangkan laki-laki, dan bagian putih adalah perempuan. Kemudian keduanya bersatu dan terjadi manusia baru. 

Bahan perlengkapan dalam gunungan kakung seperti tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, mentimun, kacang panjang dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati manusia. Dan juga dami (batang padi), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene. Bahan-bahan hasil bumi tersebut merupakan lambang dari kesuburan bumi. 

Gunungan putri, Gunungan putri melambangkan putri sejati yang menggambarkan bahwa seorang wanita harus memiliki badan dan pikiran yang dingin, sehingga dia mempunyai penangkal untuk menahan isu-isu yang datang dari luar, baik yang menjelek-jelekkan dirinya maupun keluarganya dan dapat menyimpan rahasia manusia atau keluarganya. Adapun isi dari gunungan putri merupakan makna dan lambang dari kewajiban wanita untuk menjaga dan mengerjakan urusan belakang atau kebutuhan rumah tangga. Gunungan putri berjalan di belakang gunungan kakung dan gunungan anakan, yang merupakan simbol bahwa istri bertugas sebagai pengasuh utama dari anak dan bertanggungjawab menjaga keselamatan rumah tangga. 

Eter, terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut) yang bermakna sebagai api yang menyala, yaitu semangat hidup yang menyala terus. 

Bunga sebagai pengharum, mempunyai dua makna yang terkandung di dalamnya, yaitu makna lahiriah dapat mendekatkan atau mendatangkan berkah bagi yang cocok dan menjauhkan bagi yang tidak cocok. Sedangkan makna batiniah yaitu kemuliaan atau keharuman jati diri manusia yang diperoleh dengan amal yang baik. 

Jajanan, yang terdiri dari jadah, wajik, dan jenang sebagai isi dari jodhang yang menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga. 

Uang logam, bermakna sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia, dan bermakna batiniah sebagai simbol cobaan atau ujian hidup manusia yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan. 

Gunungan anakan, bermakna bahwa anak dari sebuah rumah tangga yang sudah tentu diharapkan oleh orang tuanya, anak dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat mikul dhuwur mendhem jero. Artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua dengan cara menjaga nama baik orang tua atau dalam agama Islam dikenal dengan istilah anak sholeh yang berbakti dan mau mendoakan orang tuanya. 

Ancak cantaka, merupakan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada di dalam lindungan-Nya. Melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan papan. 

Sega uduk atau nasi gurih dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja. Maknanya sebagai lambang kehidupan yang enak atau baik, sedang yang dituju adalah untuk para Nabi dan wali. 

Sega janganan atau nasi sayuran, melambangkan kehidupan tercukupi (duniawi), sedang yang dituju adalah para roh. 

Sega asahan, bermakna untuk menyucikan lahir dan batin. 

Buah-buahan atau jajan pasar, bermakna sebagai penolak balak atau menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi. 

Sirih, menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten. 

Canthangbalung, Canthangbalung adalah abdi dalem yang bertugas membuat orang lain menjadi gembira. 

Pecut, adalah salah satu barang yang dijual dalam sekaten. Oleh masyarakat, pecut yang dibeli saat sekaten dipercaya dapat menghindarkan ternak dari penyakit dan berkembang biak bagi para peternak sapi/kambing. 

Benda-benda perlengkapan sekaten tersebut dianggap sebagai perantara untuk mendapatkan berkah kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan kehidupan ekonomi yang lebih baik serta menuju kemakmuran. 

Gunungan itu nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat. Ketika gunungan diperebutkan oleh masyarakat. Biasanya setelah mereka mendapatkan bagian dari gunungan itu, mereka meletakkan bagian dari gunungan itu di sawah, di rumah, tempat usaha mereka, tujuannya agar apa yang mereka usahakan dapat berhasil dan sukses. Selain bagian dari gunungan, yang menjadi sasaran dari masyarakat ialah hiasan bunga melati yang dipakai pada keris Pandega. 

Source http://cacanajayakertabhumi.blogspot.co.id/ http://cacanajayakertabhumi.blogspot.co.id/2015/09/prosesi-sekaten-dan-makna-gunungan.html
Comments
Loading...