“Makna Filosofis Dalam Pewayangan”

0 71

Dalam seni pewayangan ada banyak sekali kisah yang disajikan. Para penikmat seni pertunjukan wayang pasti tidak asing dengan kisah-kisah yang diambil dari karya sartra kuno, mulai dari Ramayanan sampai Mahabarata. Bukan hanya itu, setiap pagelaran wayang pasti juga ada pesan yang hendak disampaikan oleh seorang dalang. Begitu juga dengan empat tokoh pewayangan yang dikemas menjadi punakawan. Istilah punakawan berasal dari kata pana yang artinya paham, dan kawan yang artinya teman.

Menurut Slamet Muljana, seorang sejarawan, tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri. Empat tokoh punakawan terdiri dari Semar dan ketiga anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Para Punakawan ditampilkan sebagai kelompok penceria dengan humor-humor khasnya untuk mencairkan suasana. Selain itu, Punakawan juga memiliki karakter masing-masing yang tentunya patut untuk diselami lebih dalam.

Hasil gambar untuk Kisah Pewayangan dalam masyarakat jawa

Filosofi
Filsafat dan wayang, keduanya tidak dapat dipisahkan. Berbicara tentang wayang berarti kita berfilsafat. Wayang adalah filsafat Jawa. Karena wayang mengambil ajaran-ajarannya dari sumber sistem-sistem kepercayaan, wayang pun menawarkan berbagai macam filsafat hidup yang bersumber pada sistem-sistem kepercayaan tersebut, yang dari padanya dapat kita tarik suatu benang merah filsafat wayang.
Tujuan Hidup Manusia
Hidup haruslah berdasarkan kepada apa yang dinamakan kebenaran. Dan menurut wayang, “kebenaran sejati” (ultimate truth) hanyalah datang dari Tuhan. Untuk mendapatkan ini, manusia harus dapat mencapai “kesadaran sejati” (ultimate awareness) dan memiliki “pengetahuan sejati” (ultimate knowledge). Untuk itu, manusia harus dapat melihat “kenyataan sejati” (ultimate reality) dengan melakukan dua hal. Pertama, mempersiapkan jiwa raganya sehingga menjadi manusia yang kuat dan suci, dan kedua memohon berkah Tuhan agar dirinya terbuka bagi hal-hal tersebut (tinarbuka).
Dimaksudkan terbuka di sini adalah, sesuatu yang dicapai bukan melulu dari kekuatan penalaran atau rasio. Saat rasio terhenti, untuk mencapai kebenaran sejati, manusia harus menggunakan “rasa sejati” (ultimate feeling) melalui mistik. Jika filsafat oleh orang Barat dilakukan atas dasar rasio semata (akal, budi, pikiran, nalar), maka bagi dunia kejawen pengkajian kebenaran dilakukan melalui rasio plus indera batin. Inilah bedanya antara “ilmu” dan “ngelmu”. Dengan mistis, manusia dapat melihat “kenyataan sejati” tentang dirinya, asal mula diri dan kehidupannya, yang semua itu dirangkum dalam ajaran “sangkan paraning dumadi” (asal mula dan akhir kehidupan manusia).
Hasil gambar untuk Kisah Pewayangan dalam masyarakat jawa
Seni pertunjukan wayang itu sendiri, juga mengandung nilai filosofi. Sebagai contoh, gending-gending pembukaan (talu) yang mengawali sebuah pergelaran wayang, sudah dibakukan jenis dan urutannya. Gending patalon itu terdiri dari Cucur bawuk, dilanjutkan Pare AnomLadrang SrikatonKetawang Sukmailang, naik ke Gending Ayak-ayakan Manyura dan Srepegan Manyura, dan dipungkasi Gending Manyura. Gending patalon ini melambangkan suatu tataran tingkat kehidupan manusia, atau penjelmaan zat. Gending patalon ditabuh sebelum pertunjukan sebagai lambang penjelmaan zat sebelum manusia lahir di alam kehidupan nyata. Ini berarti, rancangan tataran tingkat kehidupan manusia sudah ada terlebih dulu di zaman alam baka.
Nilai Estetika dalam Perwayangan
Sebagai sebuah pertunjukan, wayang memiliki nilai estetik yang begitu tinggi. Sama dengan curiga (pusaka), kuda (kendaraan), dan kukila (burung), kesenian wayang merupakan klangenan bagi orang Jawa. Ini dikarenakan, wayang bukan saja memiliki filosofi yang begitu dalam, namun juga bernilai estetik tinggi.
Source "Makna Filosofis Dalam Pewayangan" "Makna Filosofis Dalam Pewayangan" "Makna Filosofis Dalam Pewayangan"

Leave A Reply

Your email address will not be published.