Makna di Balik Tradisi Kupatan

0 421

Makna di Balik Tradisi Kupatan

Tradisi  ini merupakan tradisi yang biasa di lakukan oleh masyarakat jawa pada hari ke – 8 sesudah hari raya Idul Fitri. Tradisi ini membuat ketupat yang dilanjutkan berdoa bersama di Musola atau masjid di suatu desa. Tradisi ini dapat di temui di wilayah wilayah sekitar Pantura di Jawa Tengah seperti Jepara, Demak, Kudus, Pati, dan lain – lain.

Makanan yang terbuat dari beras dan di bungkus dengan daun janur atau daun kelapa yang telah di anyam dan berbentuk segi empat ini merupakan makanan khas yang di namai Ketupat, pembuatannya di olah dengan cara di rebus. Lebih dari sekedar tradisi taunan, kupatan memiliki makna yang cukup mendalam. Kupatan dianggap sebagai simbolisasi keislaman manusia yang sudah sempurna.

Kata dari kupatan berasal dari kata ngaku dan lepat, yang memiliki arti mengakui kesalahan. Kupatan sendiri mengandung filosofi tersendiri, yaitu bahwa manusia di perintahkan untuk mengakui kesalahannya, dan kemudian saling bermaafat dengan ditandai tradisi silaturrahim ke rumah sanak keluarga dan tetangga saat hari raya idul fitri.

Kupat ini juga berasal dari kata Kuffat dalam bahasa arab, yang memiliki arti sudah cukup harapan. Setelah berpuasa selama 1 bulan dan 6 hari setelah lebaran, maka orang-orang yang kuffat merasa cukup ibadahnya, sebagaimana hadits Nabi “hal demikian bagaikan puasa 1 tahun penuh”. Sedangkan bungkus dari kupat yang di sebut janur ini berasalah dari kata “ja a nur” yang memiliki arti telah datang cahaya. Maknanya bahwa umat islam mengharapkan datangnya cahaya dari Allah SWT yang senantiasa membimbing mereka pada jalan yang benar dan di ridhoi-Nya. Kemudian isi ketupat berasal dari beras terbaik yang dimasak sampai menggumpal / kempel memiliki makna kebersamaan dan kemakmuran.

Kemudian bentuk segi empat dari ketupat ini menjadi simbol pandang kiblat papat lima pancer yang menjelaskan adanya hamonisasi dan keseimbangan alam. Tradisi ini dibawa oleh walisongo khususnya sunan Kalijaga sebagai upaya untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat yang mayoritas beragama Hindu.

Para wali memasukkan dan mengganti adat hindu dengan nilai-nilai Islam tanpa merubah budaya lokal yang telah mengakar kuat. Disinilah terlihat betapa Islam masuk ke tanah Jawa dengan perdamaian. Proses asimilasi yang berlangsung justru membuat masyarakat lebih mudah menerima Islam dengan terbuka tanpa mengurangi kesakralan nilai-nilai aqidah Islamiyah.

Tradisi ini di laksanakan sekitar pukul 06.00 pagi, dimana warga berbondong – bondong pergi ke masjid dan musholla terdekat dengan membawa hidangan kupat dan lepet, kemudian berdoa bersama dan diakhiri dengan makan bersama ketupat yang dibawa.

 

Source Makna di Balik Tradisi Kupatan kompasiana
Comments
Loading...